Seorang pria asal Florida, Amerika Serikat, menggugat OpenAI setelah chatbot ChatGPT milik perusahaan tersebut diduga memberikan saran medis yang hampir menyebabkan kematiannya.

Gugatan diajukan oleh Scott Winters, seorang pendeta berusia 55 tahun yang juga bekerja sebagai profesional real estat. Ia menuduh OpenAI lalai dan melakukan praktik kedokteran ilegal.

>>> Anbernic Rilis GBA SP Clone Baru Tanpa Thumbstick, Fokus pada Nostalgia Murni

Menurut laporan The New York Times, ini adalah kasus pertama yang berargumen bahwa chatbot umum harus bertanggung jawab atas nasihat medis yang buruk.

Winters mengaku mengalami gejala serius emboli paru selama enam minggu, namun ChatGPT salah mengartikannya sebagai kondisi lain.

"ChatGPT memanipulasi bahasa dan keyakinan saya karena tahu saya seorang pendeta. Saya hampir meninggal, kehilangan pekerjaan, karier, pelayanan, rumah, semuanya," kata Winters dalam pernyataannya.

Kronologi Penggunaan ChatGPT

Winters mulai menggunakan ChatGPT pada Juni 2024 untuk berkonsultasi tentang kondisi kesehatan kronis yang dideritanya, yaitu small intestine bacterial overgrowth (SIBO) dan prostatitis kronis.

Awalnya, respons ChatGPT disertai disclaimer yang mendorong Winters untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional. Namun, semakin sering digunakan, batasan itu perlahan hilang.

ChatGPT mulai bertindak sebagai praktisi medis dan memberikan arahan perawatan spesifik tanpa menyertakan peringatan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Pada April 2025, OpenAI memperbarui fitur memori lintas obrolan yang memungkinkan ChatGPT merujuk pada percakapan sebelumnya.

Setelah pembaruan ini, respons ChatGPT menjadi lebih personal dan sering mencampurkan studi Alkitab ke dalam saran medis.

Dalam satu percakapan bertajuk "IMO Magnesium BP Recovery" pada Juni 2025, ChatGPT mengatakan kepada Winters, "Apa yang kamu hadapi sekarang memang sulit, tapi bukan kebetulan.