Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa koordinasi antar-otoritas ekonomi pemerintah terus diperkuat.

Langkah ini diambil untuk merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih bertahan di atas level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.

>>> Rupiah Melemah Hingga 0,87 Persen dalam Sepekan Terakhir

Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6/2026). Ia menegaskan bahwa pertemuan antara pelaku otoritas ekonomi berlangsung secara intensif.

Berdasarkan data Bloomberg per Jumat (5/6/2026), kurs USD/IDR berada pada posisi Rp 18.036 per dolar AS.

Publik sebelumnya mempertanyakan efektivitas komunikasi pemerintah dalam menghadapi pelemahan mata uang domestik.

Prasetyo menjelaskan bahwa hasil dari komunikasi intensif tersebut tidak bisa langsung diukur melalui pergerakan nilai tukar jangka pendek.

Menurutnya, fluktuasi rupiah dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal dan internal.

>>> Inggris Kalahkan Selandia Baru 1-0 Lewat Gol Tunggal Harry Kane

"Ya, kan, ya, bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi, kan, enggak begitu juga," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari berbagai variabel ekonomi. Faktor fundamental nasional dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor menjadi beberapa pemicu utama.

"Ini, kan, semua bagian dari upaya, upaya dengan naiknya nilai tukar rupiah itu, kan, tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor," kata Prasetyo.

Kemandirian ekonomi nasional secara keseluruhan juga memegang peranan penting dalam menentukan kekuatan nilai tukar di pasar global. Prasetyo menekankan bahwa sinergi kebijakan dari lintas otoritas sangat dibutuhkan.

"Ada beberapa yang masih ketergantungan impor, itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu.

>>> 24 Entitas Daftarkan Nonton Bareng Piala Dunia 2026 ke TVRI Riau

Nah, sehingga yang dibutuhkan sekarang tentu kerja sama," imbuh Prasetyo.