Di tengah ancaman triple planetary crisis—perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan—hutan dinilai tidak hanya berperan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga dapat membantu memulihkan kesehatan fisik dan mental.

Konsep ini dikenal dengan healing forest atau terapi hutan.

>>> 8 Warna Lipstik Implora Terbaik untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang

Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, mengatakan paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells, yaitu sel imun yang berperan melawan infeksi dan sel kanker.

Terapi hutan juga disebut mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental.

"Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker.

Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental," kata Siti dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.

Menurutnya, manfaat tersebut berasal dari senyawa phytoncide, yakni senyawa volatil alami yang dilepaskan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan.

Senyawa ini mengandung antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.

Tidak Semua Hutan Cocok untuk Terapi

Namun, Siti menegaskan bahwa tidak semua kawasan hutan dapat dijadikan lokasi healing forest. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar manfaat terapi dapat dirasakan secara optimal.

Salah satunya adalah tingkat kebisingan yang rendah.

>>> Kaca Mobil Buram Bikin Bahaya? Kenali Penyebab Jamur dan Cara Ampuh Mengatasinya

Menurutnya, untuk membantu meredakan stres, tingkat kebisingan di lokasi terapi idealnya berada di bawah 40 desibel sehingga suasana tetap tenang dan mendukung relaksasi.

Selain itu, kualitas udara juga menjadi faktor penting. Kawasan yang dipilih sebaiknya memiliki vegetasi yang lebat sehingga menghasilkan lebih banyak senyawa phytoncide.