Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal bersama pemerintah guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Langkah ini diambil setelah mata uang domestik mengalami tekanan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

>>> Purbaya Yudhi Sadewa: Persepsi Negatif Ganggu Stabilitas Rupiah

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot merosot ke posisi Rp 18.036 per dollar AS pada penutupan Jumat (5/6/2026).

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,86 persen dalam sepekan dari posisi sebelumnya Rp 17.881 per dollar AS pada Jumat (29/5/2026).

Strategi Meningkatkan Daya Tarik Imbal Hasil

Pemerintah dan otoritas moneter kini memprioritaskan peningkatan daya tarik imbal hasil dari berbagai instrumen keuangan dalam negeri.

Strategi ini diterapkan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga pasar saham demi menjaring kembali aliran modal ekspatriat.

Upaya pemulihan stabilitas ini disampaikan langsung oleh pihak bank sentral dalam pertemuan resmi bersama jajaran legislatif untuk merespons pelarian modal asing ke luar negeri.

"Ada dua yang berkaitan dengan penguatan koordinasi moneter fiskal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflows kembali masuk," ujar Perry Warjiyo.

Aliran modal keluar terpantau menguras aset pasar saham dan SBN akibat penyesuaian kebijakan suku bunga di luar yurisdiksi Indonesia.

>>> OJK Terbitkan Aturan Baru Layanan Pay Later untuk Perusahaan Multifinance

Penurunan kepemilikan asing pada instrumen SRBI cenderung lebih minim dibandingkan dengan instrumen keuangan domestik lainnya.

"Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow ada saham dan SBN dan juga kecil di SRBI.