Geoffrey Hinton Peringatkan AI Berpotensi Picu Kepunahan Manusia dalam 30 Tahun
Dokumen kebijakan OpenAI setebal 13 halaman tentang pengelolaan superintelligence juga dikritik. Industri dianggap masih menutup mata dan enggan menganalisis karakteristik entitas yang diciptakan.
>>> Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0 di FIFA Matchday GBK
Hinton menekankan penyelesaian masalah tidak bisa hanya bertumpu pada aspek engineering, melainkan pendekatan pola asuh.
Kebaikan moral sistem harus ditanamkan sejak awal, misalnya dengan memberikan naluri keibuan agar AI memiliki keinginan alami melindungi manusia.
"Apakah Anda akan mengajari anak Anda membaca dengan menggunakan buku harian pembunuh berantai? Tentu saja tidak.
Nah, itulah jawabannya," tegas Hinton.
Keberhasilan menciptakan entitas baru ini diprediksi menjadi pukulan telak ketiga bagi ego intelektual manusia, setelah teori Copernicus dan teori evolusi Darwin.
"Saya rasa kita sedang menghadapi revolusi baru, di mana kita bukan lagi satu-satunya entitas cerdas yang ada," tuturnya.
Namun, ilmuwan kognitif Gary Marcus membantah pandangan tersebut. Ia menegaskan peneliti tidak menciptakan makhluk bernyawa, melainkan hanya menyusun fiksi interaktif yang dilatih memprediksi bahasa.
"Mereka menciptakan fiksi interaktif yang dilatih untuk memprediksi bahasa dari entitas yang sebenarnya. Keduanya tidak sama.
Dan Hinton seharusnya lebih tahu soal ini," sanggah Marcus.
Marcus menilai sistem AI hanya menghafal pola data internet tanpa membangun model berdasarkan pengalaman hidup atau kesadaran manusia.
Pandangan ini diperkuat pernyataan Paus Leo XIV bahwa pemahaman sejati lahir dari pengalaman, bukan perkiraan teks.
Pada akhir sesi, Hinton menutup perdebatan dengan perbandingan terhadap J. Robert Oppenheimer, pencipta bom atom yang karyanya memicu penyesalan mendalam.
>>> Harga Emas Antam Jeblok Rp 32.000 Per Gram pada 6 Juni 2026
"Oppenheimer tidak pernah memenangi Hadiah Nobel Fisika," tutupnya.
Update Terbaru
Wawancara MARRIAGETOXIN: Shion Wakayama dan Haruki Ishiya Bicarakan Karakter dan Season 2
Rabu / 22-07-2026, 00:45 WIB
Sekuel 'Teenieping' Angkat Kisah Cinta Ibu dengan Spektakel Lebih Besar
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
'Better Late Than Single' Season 2: Dating Show with Awkward Charm
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
Mengapa Banyak Makian? Kisah di Balik Film 'Hope' Na Hong-jin
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
DPR Tetapkan Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
Changan Umumkan Harga Resmi Deepal SO5 Mulai Rp509 Juta
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
BGN Umumkan Lima Pejabat Baru Pengurus MBG, Ini Daftarnya
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
Gen Z India Bentuk Partai Kecoak, Demo Tuntut Menteri Mundur
Rabu / 22-07-2026, 00:44 WIB
Ford Disetujui Pekerja Kanada, Produksi V8 Ditingkatkan
Rabu / 22-07-2026, 00:43 WIB
VW Peringatkan 140.000 Pekerjaan Terancam, Termasuk Penutupan Pabrik
Rabu / 22-07-2026, 00:43 WIB
Ledakan Grand Polonia Medan: Dua Korban Tewas Berhasil Ditemukan
Rabu / 22-07-2026, 00:42 WIB
Tim Panahan Indonesia Minta Masseur Khusus di Asian Games 2026
Rabu / 22-07-2026, 00:42 WIB
Prabowo Lantik Taruna Akmil-Akpol di Istana Besok Pagi
Rabu / 22-07-2026, 00:42 WIB
Anjing Husky Dibacok di Bekasi, Polisi Terjunkan Unit K9
Rabu / 22-07-2026, 00:42 WIB







