Dokumen kebijakan OpenAI setebal 13 halaman tentang pengelolaan superintelligence juga dikritik. Industri dianggap masih menutup mata dan enggan menganalisis karakteristik entitas yang diciptakan.

>>> Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0 di FIFA Matchday GBK

Hinton menekankan penyelesaian masalah tidak bisa hanya bertumpu pada aspek engineering, melainkan pendekatan pola asuh.

Kebaikan moral sistem harus ditanamkan sejak awal, misalnya dengan memberikan naluri keibuan agar AI memiliki keinginan alami melindungi manusia.

"Apakah Anda akan mengajari anak Anda membaca dengan menggunakan buku harian pembunuh berantai? Tentu saja tidak.

Nah, itulah jawabannya," tegas Hinton.

Keberhasilan menciptakan entitas baru ini diprediksi menjadi pukulan telak ketiga bagi ego intelektual manusia, setelah teori Copernicus dan teori evolusi Darwin.

"Saya rasa kita sedang menghadapi revolusi baru, di mana kita bukan lagi satu-satunya entitas cerdas yang ada," tuturnya.

Namun, ilmuwan kognitif Gary Marcus membantah pandangan tersebut. Ia menegaskan peneliti tidak menciptakan makhluk bernyawa, melainkan hanya menyusun fiksi interaktif yang dilatih memprediksi bahasa.

"Mereka menciptakan fiksi interaktif yang dilatih untuk memprediksi bahasa dari entitas yang sebenarnya. Keduanya tidak sama.

Dan Hinton seharusnya lebih tahu soal ini," sanggah Marcus.

Marcus menilai sistem AI hanya menghafal pola data internet tanpa membangun model berdasarkan pengalaman hidup atau kesadaran manusia.

Pandangan ini diperkuat pernyataan Paus Leo XIV bahwa pemahaman sejati lahir dari pengalaman, bukan perkiraan teks.

Pada akhir sesi, Hinton menutup perdebatan dengan perbandingan terhadap J. Robert Oppenheimer, pencipta bom atom yang karyanya memicu penyesalan mendalam.

>>> Harga Emas Antam Jeblok Rp 32.000 Per Gram pada 6 Juni 2026

"Oppenheimer tidak pernah memenangi Hadiah Nobel Fisika," tutupnya.