Geoffrey Hinton, pakar ilmu komputer yang dijuluki Bapak Kecerdasan Buatan, menyampaikan peringatan serius tentang masa depan AI.

Dalam Sana AI Summit di New York, ia menyatakan ada risiko 10 hingga 20 persen teknologi ini memicu kepunahan manusia dalam 30 tahun ke depan.

>>> FIM Diskualifikasi Adrian Fernandez dari Enam Seri Awal Moto3 2026

Hinton yang juga peraih Hadiah Nobel Fisika 2024 itu mengundurkan diri dari Google pada 2023.

Ia mendasarkan argumennya pada keberhasilan model AI memecahkan teorema matematika kompleks milik Paul Erdos menggunakan cabang matematika yang belum pernah terpikirkan manusia.

Menurut Hinton, pencapaian itu membuktikan AI mampu melahirkan asumsi sendiri, melakukan pengujian, belajar dari kegagalan, dan berkembang mandiri.

Pola ini mirip dengan sistem AlphaGo buatan Google DeepMind yang menjadi tak terkalahkan setelah meracik data pelatihannya sendiri.

"Saya rasa AI akan menjadi jauh lebih cerdas dari kita," ujar Hinton.

Model bahasa besar saat ini dinilai bergerak ke arah yang sama, di mana sistem dapat belajar mandiri ketika mendeteksi inkonsistensi dalam penalarannya.

Dampak pada Lapangan Kerja dan Kritik terhadap Industri

CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, sepakat dengan proyeksi Hinton.

Ia memprediksi dalam satu dekade AI akan menyingkirkan matematikawan terbaik dunia, dan dalam 20 tahun menyamai kemampuan otak Albert Einstein.

Kekhawatiran pakar kini bergeser ke dampak AI terhadap lapangan kerja.

Hinton mengkritik bahwa orang kaya akan menggunakan AI untuk menggantikan pekerja, dan itu bukan salah AI melainkan sistem kapitalis.

Perlombaan raksasa teknologi disebut menyerupai evolusi biologi yang mengutamakan kelangsungan hidup demi valuasi triliunan dolar. Akibatnya, perusahaan terus memacu penciptaan sistem tercerdas tanpa memedulikan nilai moral.