Di sebuah kebun buah di pinggiran Wuhan, Zhang Shuwang kini bisa bernapas lega.

Setiap pagi, ia memuat hasil panen ke dalam van otonom kecil buatan Zelostech, memindai kode QR alamat pelanggan, dan melihat kendaraan itu melaju sendiri ke pasar.

>>> Dolphins Kokohkan Posisi Play-off Usai Kalahkan Cowboys

Van tersebut menggunakan sensor real-time dan kecerdasan buatan (AI) untuk bernavigasi tanpa peta beresolusi tinggi, sehingga pengiriman otonom bisa dilakukan di daerah pedesaan terpencil.

Sebelumnya, Zhang kesulitan mengirimkan buahnya ke pasar induk yang berjarak 60 kilometer. Sopir truk enggan datang, dan buah sering busuk sebelum sempat dikirim.

Setahun lalu, anaknya menyarankan menggunakan robovan. "Dalam sebulan, saya melihat perbedaannya.

Kini buah yang dipetik pagi hari sampai ke pelanggan di hari yang sama. Pendapatan tahunan saya naik 30-40 persen," kata Zhang.

Zhang adalah salah satu dari banyak warga biasa di China yang merasakan manfaat AI, seiring teknologi ini menyebar dari kota besar ke daerah pedesaan, membantu petani, dokter, dan pemilik usaha kecil.

Menjembatani Kesenjangan

Pada hari pembukaan Konferensi AI Dunia (WAIC) 2026 di Shanghai, Zelostech mengumumkan produksi massal solusi mengemudi otonom L4 tanpa peta, yang pertama di dunia.

Sistem ini memangkas waktu penyebaran dari satu bulan menjadi kurang dari sehari, mengurangi biaya, dan memperluas logistik efisien ke daerah terpencil.

Kong Qi, CEO Zelostech, mengatakan produk AI fisik harus memecahkan masalah nyata seperti kekurangan tenaga kerja akibat populasi menua dan keterbatasan geografis.

"China membangun jaringan logistik yang lebih inklusif, dengan banyak kota membuka jalan umum untuk kendaraan pengiriman otonom," ujarnya.

Sementara itu, di Pegunungan Lyuliang, dokter desa Li Huayu melayani lebih dari 1.000 penduduk.