Kasus dugaan pelecehan seksual di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terungkap tidak hanya berisi pelecehan verbal, tetapi juga pembuatan konten tidak etis menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Ketua Umum DPM Fakultas Vokasi Unesa, Tegar Eka Pambudi El Akhsan, mengungkapkan modus pelecehan dalam grup chat yang berisi enam mahasiswa terlapor berinisial RY, HA, AD, RE, JO, dan DO.

>>> Hubungan Dekat Argentina dan Spanyol: Penjajahan Ratusan Tahun hingga Migrasi

"Bentuk dugaan pelecehan tidak hanya berupa pelecehan verbal dan objektifikasi, tetapi juga penggunaan AI untuk menghasilkan konten tidak etis terhadap salah satu korban," kata Tegar dalam keterangan resmi, Senin (20/7).

Kronologi Terungkapnya Kasus

Kasus ini pertama terungkap ketika seorang korban diminta memakai ponsel terduga pelaku untuk menghubungi rekannya.

Korban melihat notifikasi pesan mencurigakan dari sebuah grup chat dan membukanya tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.

Ia menemukan pesan berbintang berisi kalimat yang diduga mengandung unsur pelecehan.

Dua anggota grup, JO dan DO, memberikan keterangan ke DPM pada 1 Juli 2026 karena tidak tahan dengan perilaku rekan-rekannya.

Grup chat yang awalnya dibuat untuk membahas kegiatan lomba itu disalahgunakan untuk percakapan tidak etis.

Korban Bertambah dan Tindak Lanjut

Jumlah korban terus bertambah dari sembilan orang pada awal Juli menjadi 19 orang pada 5-6 Juli, dan akhirnya mencapai 26 orang pada 13 Juli 2026.

Korban terdiri dari 22 mahasiswa dan empat dosen.

>>> RUU PFII Disepakati untuk Disahkan Jadi UU dalam Rapat Paripurna Besok

Berdasarkan verifikasi sementara Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Unesa, tiga pihak berinisial RE, JO, dan DO dinyatakan bukan pelaku hingga proses selesai.