Pertemuan Timnas Spanyol dan Argentina di final Piala Dunia 2026 pada Minggu (19/7) tidak hanya menjadi ajang rivalitas sepak bola, tetapi juga mencerminkan hubungan politik dan sejarah yang panjang antara kedua negara.

Di media sosial, banyak pengguna mengaitkan pertandingan ini dengan solidaritas politik untuk Palestina.

>>> RUU PFII Disepakati untuk Disahkan Jadi UU dalam Rapat Paripurna Besok

Argentina dianggap pro-Israel karena hubungan eratnya dengan negara tersebut, sementara Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dikenal sebagai pendukung vokal Palestina.

Namun, di balik perbedaan politik itu, hubungan antara rakyat Argentina dan Spanyol sangat dekat. Keduanya memiliki ikatan sejarah yang kuat, dimulai dari kolonisasi Spanyol pada abad ke-16.

Sejarah Kolonisasi dan Migrasi

Menurut Britannica, kedatangan penjelajah Juan Díaz de Solís pada tahun 1516 menandai awal dari 300 tahun pemerintahan Spanyol di Argentina.

Para penjelajah itu mendirikan Buenos Aires, yang kini menjadi ibu kota.

Perkawinan antara laki-laki Spanyol dan perempuan Indian menghasilkan keturunan mestizo, sementara elite Kreol lahir dari keluarga Spanyol murni.

Pada tahun 1776, kepemimpinan politik wilayah itu berpusat di Buenos Aires.

>>> 7 Tanda Seseorang Tidak Cocok Jadi Pemimpin, Saatnya Evaluasi

Setelah upaya Inggris merebut Buenos Aires pada 1806 gagal, Argentina mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol pada 1816 atas desakan José de San Martín.

Buenos Aires resmi menjadi ibu kota pada 1862.

Pada abad 19 dan 20, migrasi besar-besaran orang Spanyol ke Argentina menjadi salah satu fenomena perpindahan penduduk terbesar dalam sejarah.

Arus ini melambat drastis pada era Depresi Ekonomi Global (1930-an).

Pengaruh Spanyol masih terasa kuat di Argentina. Bahasa Spanyol menjadi bahasa resmi, dengan dialek khusus Rioplatense.

>>> Atlet Golf Perempuan Diculik saat Perayaan Ultah Nenek di Jakpus

Dua puluh marga paling umum di Argentina juga berasal dari bahasa Spanyol.