Pemerintah menilai pendaratan Sistem Kabel Bawah Laut Nongsa-Changi sebagai infrastruktur strategis yang akan memperkuat konektivitas digital Indonesia dan Singapura.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kabel bawah laut tersebut menjadi fondasi koridor digital baru antara kedua negara dengan latensi rendah dan kapasitas transmisi besar.

>>> ESDM Ungkap 93 Proyek Hidrogen, dari Amonia Hijau hingga Konversi PLTD

"Hari ini kita merayakan pendaratan Sistem Kabel Bawah Laut Nongsa-Changi.

Infrastruktur ini menjadi fondasi fisik bagi koridor digital baru, yang memperkuat salah satu koneksi digital tercepat dan terdekat di Asia Tenggara antara Indonesia dan Singapura," ujar Airlangga dalam acara pendaratan kabel di Batam, Senin (20/7/2026).

Sistem kabel yang dikembangkan Telin bersama BW Digital itu memiliki kapasitas lebih dari 1,6 petabit per detik dengan latensi kurang dari 2 milidetik antara Indonesia dan Singapura.

Menurut Airlangga, kapasitas tersebut akan mendukung layanan digital bernilai tambah tinggi, seperti cloud computing, inferensi AI, transaksi keuangan berkecepatan tinggi, hingga pengembangan layanan digital generasi berikutnya.

Pemerintah memandang pembangunan infrastruktur digital sebagai fondasi untuk mempercepat transformasi ekonomi digital nasional.

Selain konektivitas, pemerintah juga memperkuat pasokan energi berkelanjutan dan kepastian berusaha guna menarik investasi di sektor digital.

Airlangga mengungkapkan Indonesia saat ini memiliki 235,26 juta pengguna internet dengan tingkat penetrasi mencapai 81,72%, sementara jumlah pelanggan fixed broadband mencapai 99,5 juta.

Indonesia diproyeksikan menjadi pasar AI terbesar keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang, dengan nilai pasar diperkirakan mencapai US$70 miliar atau sekitar 6,4% dari total pasar AI Asia.

>>> BEI Buka Suspensi, Saham AGAR Langsung Terbang 24,75% ke Rp630