Aktivis iklim dari kelompok Extinction Rebellion melakukan aksi vandalisme unik terhadap proyek pembangunan pusat data Microsoft di Amsterdam.

Mereka mengaku melemparkan balon air berisi campuran hidrogen peroksida, asam asetat, garam, dan cat akrilik ke fasilitas tersebut.

>>> Flock Hentikan Fitur Audio Pengawas yang Kontroversial

Menurut pernyataan Extinction Rebellion, campuran asam itu dapat menyerang beton dan hidrogen peroksida mempercepat karat pada baja.

Dampak fisik dari aksi ini terhadap pusat data belum diketahui, namun tampaknya bukan tujuan utama.

Aksi Protes yang Eskalatif

Extinction Rebellion dikenal menggunakan aksi tanpa kekerasan dan perlawanan langsung untuk menarik perhatian pada isu iklim.

Sebelumnya, mereka menyemprotkan asam butirat ke kantor perusahaan asuransi bahan bakar fosil dan memblokade pintu masuk Lloyd's di London.

>>> AS Keluarkan Peringatan Perjalanan Global Setelah Serangan Mematikan di Yordania

Pusat data menjadi target yang jelas karena konsumsi energinya yang besar dan kontribusinya terhadap emisi karbon serta masalah pasokan air lokal.

Extinction Rebellion menuduh proyek ini memanfaatkan celah hukum untuk menghindari larangan 'hyperscaler' dan akan menggunakan listrik dalam jumlah besar di daerah yang sudah kekurangan daya.

Aksi ini juga dikaitkan dengan peran Microsoft yang dituding mendukung kehancuran Gaza oleh Israel.

Juru bicara Extinction Rebellion, Martijn Dekker, menyatakan bahwa perjuangan melawan pusat data menunjukkan persatuan rakyat melawan kekuatan kapital besar.

>>> New Zealand Kalahkan West Indies di ODI Ketiga Usai Kolaps Batting

Dia menambahkan bahwa krisis iklim dan ekologi tidak bisa dipisahkan dari genosida Palestina oleh Israel atau efek destruktif AI.