Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan impor bijih nikel Indonesia akan menembus 25 juta ton pada 2026.

Angka ini naik signifikan dari realisasi impor tahun 2025 yang tercatat sebesar 15,33 juta ton.

>>> Arab Saudi Hapus Paket D Haji Mulai 2027, Layanan Disederhanakan

Ketua FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan proyeksi tersebut dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

"Kurang lebih 25 juta [ton] untuk tahun ini impornya [bijih nikel]. Hitungan kami," ujarnya.

Hingga Mei 2026, FINI mencatat realisasi impor bijih nikel dari Filipina telah mencapai 5 juta ton.

Peningkatan impor dipicu oleh pengurangan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun ini oleh Kementerian ESDM menjadi 260 juta hingga 270 juta ton.

Arif sebelumnya memprediksi pasokan dari Filipina bisa mencapai 30 juta ton pada 2026. Namun, penurunan utilisasi sejumlah smelter pada semester pertama mengubah angka penyerapan bahan baku.

"Kalau ngitung saat ini kan udah ada yang utilisasinya turun, jadi ada penurunan produksi, sehingga angkanya [impornya] pasti berubah," tambahnya.

Kapasitas pasokan Filipina juga terbatas karena para penambang di sana terikat kontrak dengan negara lain.

Kebutuhan total bijih nikel Indonesia tahun ini diperkirakan naik menjadi 340 hingga 350 juta ton seiring kapasitas smelter yang mencapai 2,7 juta dry metric ton (dmt).

>>> BPOM Siapkan Sistem Pelabelan Nutri Level Pangan Kemasan, Berlaku Juni 2026

Kementerian ESDM menetapkan batas produksi nikel tahun ini di rentang 260 juta sampai maksimal 270 juta ton.

Dirjen Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno menyatakan, "Nikel sudah kita umumkan hari ini, [target produksinya] 260 juta–270 juta ton, in between range-nya itu."