Langkah pembatasan ini didukung oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) demi menjaga stabilitas harga nikel global.

Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menegaskan pentingnya intervensi pasar karena Indonesia menyumbang 65 persen dari total surplus pasokan dunia.

Tanpa pemotongan, harga logam nikel di London Metal Exchange (LME) terancam jatuh ke level US$12.000 per ton.

"Biar harga naik dong. Kalau produksi terlalu over kan harga pasti turun ya," tegas Meidy.

Kajian internal asosiasi memperkirakan surplus nikel global akan mencapai 209 juta ton pada tahun ini dan melonjak ke 261 juta ton pada tahun depan.

>>> Prabowo Ganti Kepala BGN Usai Mantan Pejabat Jadi Tersangka Korupsi

Pengendalian output nasional dipandang sebagai instrumen vital untuk membalikkan tren penurunan harga.