Menurut psikologi kognitif, kondisi ini dapat dijelaskan melalui fenomena "Curse of Knowledge" atau kutukan pengetahuan.

Fenomena ini terjadi ketika seseorang yang sangat memahami suatu topik kesulitan membayangkan bagaimana rasanya tidak mengetahui informasi tersebut.

Semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu bidang, semakin sulit baginya menentukan titik awal penjelasan yang tepat. Akibatnya, mereka cenderung memberikan konteks yang terlalu banyak.

Orang yang sangat cerdas atau ahli di bidang tertentu biasanya telah membangun kerangka pemikiran yang kompleks.

Saat menjelaskan, mereka sering memulai dari bagian yang menurut mereka penting, padahal lawan bicara belum memiliki dasar pengetahuan yang sama.

Niat mereka umumnya bukan untuk mempersulit, melainkan memberikan gambaran yang lengkap dan akurat. Namun, efek sosial yang muncul sering kali justru sebaliknya: pendengar bisa merasa bingung atau bosan.

Para ahli menekankan bahwa fenomena Curse of Knowledge bukan alasan untuk berkomunikasi dengan buruk. Kemampuan menyederhanakan informasi tetap merupakan keterampilan penting yang perlu dipelajari.

Memahami asal-usul perilaku tersebut dapat membantu orang lain melihatnya dari sudut pandang berbeda.

>>> NVIDIA Belum Mau Luncurkan Chip Laptop RTX Spark untuk Handheld PC

Saat seseorang terlalu banyak menjelaskan, bisa jadi penyebabnya bukan karena kurang memahami topik, melainkan karena terlalu banyak mengetahui tentangnya.