Ketergantungan Indonesia terhadap susu impor kembali menjadi sorotan seiring pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku industri pengolahan susu.

Pelaku usaha memilih untuk melakukan efisiensi dan perbaikan rantai pasok di tengah ambisi pemerintah mempercepat swasembada susu.

>>> Harga Bitcoin Anjlok ke 61.000 Dollar AS akibat Arus Keluar ETF

Dominasi impor hingga 80% kebutuhan nasional membuat industri masih rentan terhadap gejolak nilai tukar.

Tekanan tersebut muncul ketika nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor susu maupun pengadaan sapi perah yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri, terutama Australia.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Industri Susu

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Makmun mengatakan pasokan susu nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor.

Produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional, sementara sisanya dipenuhi dari pasar internasional.

Menurut dia, pelemahan rupiah memang berdampak terhadap biaya pengembangan industri susu nasional, khususnya pengadaan sapi perah impor yang menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan populasi ternak.

"Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah. Umumnya kita ngambilnya dari Australia.

Dengan kenaikan dolar ada kenaikan dari harga sapinya," ujar Makmun.

Meski demikian, dia menilai dampak kenaikan tersebut masih relatif terkendali.

Jika pada tahun lalu harga sapi perah bunting impor berada di kisaran Rp45 juta per ekor, tahun ini harga belum menembus Rp50 juta per ekor meski terjadi kenaikan.

Bagi industri pengolahan susu, tekanan kurs memang sulit dihindari.

General Manager Research and Development PT Indolakto Tjatur Lestijaman mengatakan sekitar 80% kebutuhan bahan baku susu nasional masih berasal dari impor sehingga pergerakan dolar memiliki pengaruh langsung terhadap biaya produksi.