Menurut Tjatur, pelemahan rupiah meningkatkan biaya pengadaan bahan baku yang dibeli menggunakan mata uang asing.

Namun, perusahaan berupaya agar kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.

"Karena 80% kebutuhan susu masih impor dan harganya terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap bahan baku.

Tetapi kami berkomitmen tidak akan 100% pass on ke konsumen," ujarnya.

Tjatur menjelaskan industri saat ini lebih memilih melakukan berbagai program efisiensi untuk menjaga harga produk tetap terjangkau.

>>> Jadwal Bursa Transfer Musim Panas 2026 Resmi Dirilis, Liga Inggris Buka Paling Awal

Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan efisiensi operasional pabrik hingga optimalisasi rantai pasok.

Menurutnya, daya beli masyarakat masih menjadi pertimbangan utama pelaku industri dalam menentukan harga jual produk susu di tengah tekanan biaya produksi.

Dia berharap peningkatan produksi susu dalam negeri dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dengan meningkatnya kandungan bahan baku lokal, industri dinilai akan lebih tahan terhadap gejolak eksternal seperti fluktuasi nilai tukar.

Langkah Taktis Pemerintah

Harapan serupa disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti.

Menurutnya, pemerintah bersama pelaku industri dan peternak tengah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus memperkuat produksi susu nasional.

Dalam jangka pendek, pemerintah fokus menjaga ketersediaan pasokan susu impor agar kebutuhan industri tetap terpenuhi.

Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah penggunaan kontrak pembelian jangka panjang guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

"Karena saat ini sekitar 80% masih impor, maka yang harus dijaga adalah ketersediaan pasokannya.

Salah satunya melalui kontrak pembelian jangka panjang yang bisa mengurangi risiko fluktuasi rupiah," ujar Widiastuti.