Penyebab utama koreksi ini adalah akumulasi berbagai sentimen makroekonomi dan masalah institusional. Penurunan prospek dari Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus memicu kekhawatiran investor.

Kondisi pasar semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS.

Depresiasi ini menimbulkan kecemasan terhadap potensi kenaikan beban operasional perusahaan, terutama yang memiliki utang valas atau ketergantungan bahan baku impor.

Selain itu, rumor terkait publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings turut memicu aksi jual. Meski laporan resmi belum dirilis, pelaku pasar memilih langkah antisipasi terlebih dahulu.

Volatilitas pasar juga dipengaruhi oleh sikap waspada investor menjelang pengumuman penting dari MSCI.

Terdapat dua agenda utama: Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni.

Risiko penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI mendorong investor asing untuk mengurangi porsi aset berisiko di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai perlindungan modal sebelum ada kepastian.

Akibatnya, IHSG terus mengalami tekanan jual masif sepanjang sesi pertama tanpa tanda-tanda pembalikan arah yang signifikan.

>>> Veda Ega Kejar Selisih Satu Poin di Moto3 Hungaria 2026

Pergerakan di sesi kedua diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh arus modal asing dan pergerakan kurs rupiah.