Pelemahan rupiah terus berlanjut hingga menembus level psikologis 18.000 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026.

Kondisi ini mendapat sorotan luas dari media arus utama Singapura, seperti Channel News Asia (CNA) dan The Straits Times.

>>> Kenali 10 Sinyal Tubuh Saat Ginjal Mulai Bermasalah

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dalam laporan CNA, rupiah tercatat di posisi 18.028 per dolar AS — level terendah dalam sejarah.

Sepanjang tahun ini, rupiah telah terkoreksi lebih dari 7%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Pada pukul 11.06 waktu Singapura, The Straits Times mencatat rupiah melemah 0,35% ke 18.029,5.

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga menyentuh rekor terendah terhadap dolar Singapura di 14.047,71, dengan pelemahan year-to-date mencapai 9,3%.

Faktor Pemicu Anjloknya Rupiah

Lonjakan harga minyak global akibat konflik AS-Israel dengan Iran menjadi pendorong utama. Hal ini meningkatkan biaya impor energi dan permintaan dolar AS.

>>> Komentar yang Sebaiknya Ditahan saat Bicara dengan Ibu Hamil

Surplus perdagangan Indonesia menyempit drastis: ekonom Josua Pardede mencatat surplus April hanya US$89 juta, turun tajam dari US$3,3 miliar pada Maret.

Akibatnya, pasokan dolar di pasar domestik menipis.

Status Indonesia sebagai importir minyak bersih turut membebani subsidi BBM, membuat pemerintah kesulitan menjaga stabilitas harga di tengah tekanan eksternal.

Kewaspadaan Pasar dan Dampak Investasi

Penembusan level 18.000 memicu kekhawatiran capital outflow dari pasar saham dan obligasi. Pelaku pasar kini menanti langkah Bank Indonesia, termasuk kemungkinan intervensi besar-besaran.

Sentimen negatif juga dipicu oleh potensi evaluasi status klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, serta revisi prospek kedaulatan oleh Fitch dan Moody's.

>>> Jalen Brunson Cetak 38 Poin, Knicks Taklukkan Spurs di MSG

Hingga pukul 11.30 WIB, dolar AS sempat menyentuh Rp18.040, menambah tekanan terhadap perekonomian nasional.