Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis 4 Juni 2026.

Indeks ditutup anjlok 3,48% atau turun 206,81 poin ke level 5.734,26.

>>> NBA Finals 2026: Brunson Cedera tapi Heroik, Knicks Tundukkan Spurs 105-95

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari koreksi tajam sebesar 4,11% pada hari sebelumnya. Sejak awal pembukaan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan menembus level psikologis 5.800.

Tekanan jual terjadi di hampir seluruh sektor. Sebanyak 716 emiten mencatatkan penurunan harga, sementara hanya 68 saham menguat dan 175 saham stagnan.

Nilai transaksi pada sesi pertama tercatat sebesar Rp12,72 triliun dengan volume perdagangan mencapai 20,87 miliar lembar saham dalam 1,36 juta kali frekuensi.

Dampaknya, kapitalisasi pasar menguap hingga Rp364 triliun dalam satu sesi.

Pemicu Kejatuhan IHSG

Sektor properti dan bahan baku menjadi pemberat utama dengan koreksi masing-masing 6,44% dan 5,7%. Sementara sektor teknologi relatif lebih kuat dengan penurunan hanya 1,96%.

Adapun saham-saham yang menjadi top laggards atau penekan indeks terbesar adalah:

  • Bank Central Asia (BBCA) dengan kontribusi -18,74 poin.
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar -17,25 poin.
  • Barito Pacific (BRPT) milik Prajogo Pangestu sebesar -10,13 poin.
  • Astra International (ASII) sebesar -7,98 poin.
  • Bank Mandiri (BMRI) sebesar -7,82 poin.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi faktor utama penarik IHSG ke bawah. Pergerakan blue chip ini sangat memengaruhi psikologi pasar karena bobotnya yang besar terhadap indeks.

Kejatuhan IHSG mengonfirmasi posisi indeks kembali ke level terendah sejak akhir 2020. Valuasi pasar saat ini dinilai mencerminkan ketidakpastian yang mirip dengan masa pandemi Covid-19.

>>> Peringkat Dunia Bukan Segalanya: Jonatan vs Alwi Berebut Tiket Perempat Final