Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.

Indeks sempat menyentuh titik terendah di level 5.644,23 sekitar pukul 09.56 WIB sebelum ditutup merosot tajam.

>>> Apakah Film Monster Pabrik Rambut (2026) Bakal Lanjut Season 2?

Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Emiten big bank kompak bergerak di zona merah dan menjadi pemberat utama IHSG.

Performa Saham Big Bank

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 3,71% ke Rp 5.350 per saham.

Level harga tersebut merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Hingga 3 Juni 2026, investor asing telah mencatat net sell pada BBCA sebesar Rp 707,6 miliar.

Akumulasi penjualan asing di saham BBCA sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 31,03 triliun.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 3,1% menjadi Rp 2.810.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah lebih terbatas 1,73% ke Rp 3.980, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat penurunan terdalam di antara empat bank besar, yaitu 4,2% menjadi Rp 3.420.

>>> Trionda, Bola Pintar Piala Dunia 2026 yang Siap Ubah Laga

Meski BBNI mengalami koreksi harian paling dalam, tekanan jual asing secara kumulatif paling deras tetap dialami BBCA. BMRI mencatat pelemahan paling moderat di tengah koreksi sektor.

Rupiah Lemah dan Fundamental Solid

Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama aksi jual asing.

Pada Kamis pagi pukul 10.00 WIB, rupiah merosot ke Rp 18.033 per dolar AS, melemah 0,37% dibandingkan posisi sebelumnya.

"Sektor perbankan sangat terkait dengan kondisi makro ekonomi. Fluktuasi kurs mendorong investor asing melakukan offload sementara," jelas Nafan.

Di tengah tekanan harga saham, fundamental keempat bank besar tetap solid.

Laporan keuangan hingga April 2026 menunjukkan laba bersih yang positif: BBCA memimpin dengan Rp 20,81 triliun, disusul BMRI Rp 18,05 triliun, BBRI Rp 15,89 triliun, dan BBNI Rp 7,29 triliun.

Menurut Nafan, tekanan saat ini lebih disebabkan oleh sentimen eksternal terkait nilai tukar dan arus modal asing, bukan karena kinerja operasional perusahaan.

>>> Dolar AS Tembus Rp18.000, Tagar Protes Netizen Mendominasi X

Investor disarankan tetap waspada dan mendasarkan keputusan pada analisis fundamental jangka panjang.