Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara terkait pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Ia menyoroti beredarnya rumor negatif yang tidak berdasar di pasar keuangan.

>>> Cara Cek Desil Bansos 2026 Terbaru Lewat HP, Resmi dan Tanpa Ribet!

Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah dibuka di level Rp17.897 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga penutupan di posisi Rp17.966,5 per dolar AS.

Pemicu Sentimen Negatif

Purbaya menyebut banyak kabar burung yang merusak persepsi investor.

Salah satu isu yang dibantah adalah kabar bahwa ia menginstruksikan perbankan melakukan stress test jika rupiah di atas Rp18.000.

“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah (mengatakan) seperti itu,” ujar Purbaya di Gedung DPR.

Ia menegaskan penyebaran informasi tidak akurat berdampak negatif langsung pada rupiah. Masyarakat dan pelaku pasar diminta lebih selektif dalam menyerap informasi keuangan.

Fokus pada Fondasi Ekonomi

Pemerintah memilih memperkuat fundamental ekonomi nasional sebagai strategi utama. Purbaya meyakini fondasi yang kuat akan menarik investor asing dan memperkuat rupiah secara alami.

“Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi supaya ekonominya berjalan semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya,” tuturnya.

>>> Pabrik Kulkas Terbesar di Indonesia Resmi Beroperasi, Kapasitas 2 Juta Unit

Ia menambahkan akselerasi pertumbuhan ekonomi harus terus didorong. Dengan laju ekonomi yang sehat, nilai tukar rupiah diharapkan menemukan keseimbangan kembali.

Koordinasi dengan Bank Indonesia dan KSSK

Purbaya menegaskan masalah nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI). Kementerian Keuangan berperan menjaga stabilitas fiskal dan fundamental makroekonomi.