Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengalami perbaikan signifikan. Sebelumnya, institusi ini mendapat sorotan dan ancaman pembubaran jika tidak melakukan pembenahan.

Perbaikan dilakukan melalui penataan ulang jajaran pegawai dan penguatan kepemimpinan. Purbaya mengatakan para pejabat dan pegawai kini memahami bahwa keberlangsungan Bea Cukai bergantung pada kemampuan memperbaiki kinerja.

>>> Huawei dan Apple Tumbuh di Tengah Penurunan Pasar Smartphone China 2% pada Q2 2026

"Bea Cukai progresnya sudah amat baik. Kita sudah kocok ulang pegawai-pegawai di sana.

Dan sekarang yang di pucuk-pucuk kepemimpinannya sudah orang-orang yang relatif baik, lebih baik," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (21/7/2026).

Ancaman pembubaran yang sebelumnya disampaikan menjadi salah satu faktor pendorong perubahan di internal Bea Cukai. "Mereka tahu kalau mereka enggak baik mereka akan dibubarkan.

Itu yang penting," katanya.

Purbaya menyebut penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mulai menunjukkan pertumbuhan sekitar 7 persen.

Selain itu, berbagai praktik ilegal seperti peredaran barang selundupan dan barang bekas ilegal (balpres) mulai menurun.

"Kalau kita lihat di pasar balpres sudah berkurang banyak, barang selundupan sudah berkurang banyak," ujarnya.

Ia juga menyoroti peningkatan penindakan terhadap peredaran rokok ilegal. Strategi baru diterapkan agar pelaku praktik ilegal menghadapi risiko yang lebih besar.

Sebelumnya, penindakan hanya dilakukan terhadap barang ilegal yang ditemukan, sementara kendaraan pengangkut dan pengemudinya dilepas. Kondisi tersebut membuat biaya melakukan praktik ilegal menjadi rendah.

"Kalau ada truk bawa barang ilegal, yang ditahan cuma barang ilegalnya. Truknya dilepas, supirnya dilepas.

Jadi cost untuk melakukan praktik ilegal murah," jelasnya.