Dadan Hindayana resmi diberhentikan dari posisinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Kabar ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah berbagai momen kontroversial mewarnai masa jabatannya.

Pelantikan Dadan dilakukan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada 19 Agustus 2024.

>>> Fullerton Health Resmi Akuisisi AdMedika Anak Usaha Telkom di 2026

Namun, sebelum genap dua tahun menjabat, Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk menggantinya dengan Nanik Sudaryati Deyang.

Akun media sosial resmi BGN RI menyampaikan apresiasi atas pengabdian Dadan selama periode Agustus 2024 hingga Mei 2026.

Meski demikian, transisi kepemimpinan ini memicu tanda tanya besar di kalangan publik.

Penjemputan oleh Kejaksaan Agung

Situasi semakin memanas setelah muncul kabar bahwa Kejaksaan Agung RI menjemput Dadan Hindayana bersama dua petinggi BGN lainnya.

Langkah ini diambil bertepatan dengan penggeledahan di kantor BGN di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Penjemputan tersebut dilaporkan terjadi pada Rabu (3/6/2026) pagi untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.

Hingga kini, publik masih menunggu keterangan resmi terkait detail kasus yang melibatkan mantan Kepala BGN tersebut.

>>> Sejarah Piala Dunia 1998: Format Baru 32 Tim dan Kejayaan Mengejutkan Prancis

Deretan Momen Kontroversial

Selama memimpin lembaga ini, Dadan kerap menjadi pusat perhatian karena pernyataannya yang berani namun menuai polemik. Berikut beberapa momen yang paling diingat publik:

  • Wacana penyediaan protein dari sumber serangga untuk program gizi nasional.
  • Perselisihan terbuka terkait kebijakan anggaran dan data dengan Menteri Keuangan Purbaya.
  • Isu pelaksanaan program makan gratis yang direncanakan hingga ke Arab Saudi.
  • Polemik terkait mekanisme pendistribusian makanan bergizi di daerah pelosok.
  • Munculnya isu hukum yang berujung pada penggeledahan kantor oleh Kejagung.

Pernyataan mengenai serangga sebagai alternatif protein pada awal tahun 2025 menjadi salah satu momen paling kontroversial.

Saat itu, ia menyebutkan bahwa masyarakat di beberapa daerah di Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi serangga seperti belalang dan ulat sagu.

Ide menjadikan serangga sebagai menu dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) langsung mendapat kritik tajam dari berbagai lapisan masyarakat.

Banyak pihak menilai usulan tersebut kurang tepat untuk diimplementasikan secara nasional.

Kini, publik menantikan arah kebijakan baru di bawah pimpinan Nanik Sudaryati Deyang.

>>> Wayne Rooney Akui Sempat Ragu pada Bruno Fernandes, Kini Beri Pujian Mengejutkan

Fokus utama masyarakat tetap tertuju pada kelanjutan program gizi nasional serta penyelesaian masalah hukum yang tengah bergulir.