Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor pangan, terutama industri peternakan. Harga sapi perah dan produk susu impor berpotensi melonjak.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyatakan lonjakan harga bahan baku sulit dihindari karena ketergantungan impor masih tinggi. Sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari luar negeri.

>>> OJK Ungkap Rahasia BPR Makin Sehat di 2026, Strategi Merger Terbukti Ampuh

Dampak Kurs Dolar terhadap Pasokan Susu Nasional

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widyastuti, membenarkan bahwa depresiasi rupiah memberi tekanan besar pada harga bahan baku susu di pasar domestik.

Pengaruh kenaikan harga sangat dirasakan pelaku industri.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers menyambut Hari Susu Nusantara di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta. Pemerintah berupaya agar kenaikan biaya produksi tidak langsung dibebankan ke konsumen akhir.

Harga Sapi Perah Impor Ikut Melonjak

Kenaikan harga juga menyasar komoditas sapi perah yang didatangkan dari Australia dan Selandia Baru. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, mengonfirmasi tren kenaikan harga sapi hidup.

Kuatnya dolar membuat harga beli sapi perah menjadi lebih mahal. Namun, proses pengadaan dari negara mitra tidak mengalami hambatan distribusi.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, harga sapi perah bunting tahun lalu rata-rata Rp45 juta per ekor. Saat ini diperkirakan naik namun masih di bawah Rp50 juta per ekor.

Kenaikan harga per ekor belum terlalu jauh dari tahun sebelumnya.

Pemerintah terus melakukan kalkulasi detail untuk mengukur dampak kurs rupiah yang telah menyentuh level Rp17.800 per dolar AS.

>>> Hasil MPL ID S17: ONIC Comeback Dramatis, Dewa United Takluk Mengejutkan