Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada harga susu impor di pasar domestik.

Pemerintah Indonesia bergerak cepat menyusun solusi strategis untuk meredam efek fluktuasi mata uang terhadap ketersediaan pangan nasional.

>>> Isu Delisting Bank Danamon (BDMN) Mencuat, Manajemen dan OJK Beri Klarifikasi

Kementerian Koordinator Bidang Pangan mencatat depresiasi rupiah memberikan tekanan signifikan pada biaya pengadaan bahan baku susu dari luar negeri.

Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan susu impor masih sangat tinggi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.

Ketergantungan Impor dan Dampak Kurs

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widyastuti, mengungkapkan produksi susu dalam negeri hanya memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional.

Sebanyak 80 persen sisanya harus didatangkan dari negara lain melalui jalur impor.

"Kami harus memastikan bahwa di tengah kondisi rupiah saat ini, ketersediaan pasokan susu impor tetap terjaga bagi masyarakat," ujar Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di Jakarta.

Strategi Pemerintah Menghadapi Kenaikan Harga

Kemenko Pangan menyiapkan beberapa langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak kenaikan biaya impor. Salah satunya mendorong pelaku industri menerapkan sistem kontrak pembelian jangka panjang dengan mitra di luar negeri.

Melalui kontrak jangka panjang, harga beli dapat dikunci berdasarkan kesepakatan awal sehingga fluktuasi nilai tukar harian tidak langsung memengaruhi biaya produksi.

Strategi ini diharapkan menciptakan stabilitas harga di tingkat produsen hingga konsumen akhir.

Pemerintah juga melirik diversifikasi negara asal impor sebagai langkah mitigasi risiko ekonomi global.

Widyastuti menyebutkan mencari pemasok dari negara yang mata uangnya tidak terdampak langsung oleh penguatan dolar AS bisa menjadi opsi yang masuk akal.