Hal ini memicu kekhawatiran bahwa produsen nikel dari luar negeri justru akan mengambil keuntungan dari situasi ini.

>>> BI Rate Naik, Investasi Urun Dana Resmi Jadi Alternatif Paling Dicari 2026

Di sisi lain, kenaikan tarif royalti mineral dan batubara (Minerba) berpotensi menghambat program hilirisasi yang sedang digalakkan pemerintah.

Para pengusaha berharap adanya kajian ulang terhadap besaran tarif tersebut agar tidak mengganggu arus kas perusahaan.

Berikut perbandingan tantangan sektor hulu dan hilir nikel:

  • Sektor Pertambangan (Hulu): Pembatasan kuota produksi melalui RKAB; kenaikan harga energi untuk alat berat; penjualan tidak maksimal dan cash flow tertekan.
  • Sektor Pengolahan (Smelter/Hilir): Kenaikan tarif royalti; lonjakan harga sulfur dan energi operasional; struktur biaya berubah akibat geopolitik global.

Tabel di atas menunjukkan setiap lini dalam industri nikel memiliki beban berbeda namun saling berkaitan.

Jika masalah di sektor hulu tidak teratasi, pasokan untuk sektor hilir pun akan ikut terganggu.

Arif Perdana Kusumah menekankan bahwa penguatan ekosistem nikel sangat bergantung pada kebijakan yang seimbang.

Tanpa dukungan yang tepat, ambisi Indonesia menjadi pemain utama baterai kendaraan listrik bisa menemui jalan terjal.

Para pelaku usaha kini terus memantau perkembangan pasar internasional sambil berharap adanya relaksasi kebijakan di tingkat domestik.

>>> GMM Jamin Kondusivitas, Aspirasi Petani Tebu Blora 2026 Cair Cepat dan Aman

Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan investasi di sektor nikel nasional hingga tahun-tahun mendatang.