Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% diperkirakan mengubah peta preferensi investor. Kenaikan ini menarik minat investor konservatif ke instrumen perbankan berisiko rendah.

PT Investasi Digital Nusantara (Bizhare) melihat situasi ini sebagai momentum positif bagi industri securities crowdfunding.

>>> GMM Jamin Kondusivitas, Aspirasi Petani Tebu Blora 2026 Cair Cepat dan Aman

Founder sekaligus CEO Bizhare, Heinrich Vincent, menyatakan optimismenya bahwa urun dana tetap menjadi pilihan menarik di sektor riil.

Menurut Heinrich, potensi ini muncul di tengah pasar modal yang fluktuatif dan tekanan nilai tukar rupiah. Ia menilai deposito terkadang belum memberikan imbal hasil maksimal yang diharapkan investor.

Perbandingan risiko dan imbalan pada deposito saat ini terasa kurang seimbang bagi sebagian kalangan.

Berbeda dengan instrumen efek melalui urun dana, seperti saham, obligasi, maupun sukuk, yang menawarkan potensi keuntungan lebih besar namun tetap terukur.

Strategi Bizhare Menghadapi Kenaikan Suku Bunga

Bizhare menyiapkan langkah strategis untuk menjaga daya tarik investasi. Salah satu fokus utama adalah memperketat kurasi terhadap setiap penerbit dan proyek bisnis.

Langkah penguatan meliputi peningkatan standar fundamental dan rekam jejak bisnis, penguatan sistem mitigasi risiko, serta mendorong transparansi laporan keuangan.

Bizhare juga menyajikan rincian skema bisnis dan potensi imbal hasil secara mendalam.

>>> Pajak 0% untuk DHE SDA yang Mengendap di Dalam Negeri Resmi Berlaku

Heinrich menjelaskan bahwa Bizhare memprioritaskan skema bisnis aman, terutama melalui sukuk atau obligasi korporasi dari vendor terpercaya.

Pemilihan mitra besar dan bereputasi tinggi menjadi kunci meminimalkan potensi gagal bayar.

Untuk instrumen saham, Bizhare menerapkan skema jaminan minimum dari penerbit berdasarkan data historis.