Sebuah studi akademis baru mengungkap bahwa serial televisi Heartstopper berperan penting dalam proses penyembuhan dan pembentukan komunitas bagi penonton LGBTQ+ dari berbagai usia.

Temuan yang dipublikasikan pada 15 Juli 2026 ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 50 penggemar. Para peneliti menyoroti dampak terapeutik dari representasi queer yang positif dan menggembirakan.

>>> Persis Solo Resmi Rekrut Juan Mera, Gelandang Spanyol Berpengalaman di India

Studi yang dilakukan oleh dua profesor sosiologi dan sastra Inggris ini dimuat di The Conversation.

Mereka mencatat bahwa representasi karakter LGBTQ+ di televisi Amerika masih rendah, hanya 9,3% pada musim 2024-2025.

Lebih memprihatinkan lagi, 41% dari karakter tersebut diperkirakan tidak akan kembali, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya representasi.

Para peneliti mewawancarai penggemar berusia 18 hingga 74 tahun untuk memahami bagaimana penggambaran positif hubungan queer memengaruhi audiens.

Banyak penonton dewasa mengalami pemrosesan ulang secara khayalan, membayangkan bagaimana hidup mereka akan berbeda jika mereka tumbuh dengan penerimaan sosial yang serupa.

Nova, seorang wanita biseksual berusia 56 tahun, mengatakan, "Diri yang saya harapkan saat itu."

Ia menjelaskan bahwa sebagai gadis kulit hitam berkulit gelap yang tumbuh di Amerika Serikat, ia tidak memiliki ruang aman untuk mengeksplorasi seksualitasnya seperti yang digambarkan dalam serial tersebut.

Peserta lain tumbuh di kota kecil yang sangat religius saat awal epidemi AIDS, yang membuatnya merasa terisolasi dari komunitas LGBTQ+.

>>> Argentina Langsung Berlatih Usai Kalahkan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026

Matthew, penggemar berusia 60 tahun, mengatakan ia merasa "rusak oleh masa mudanya."

Ia menjelaskan bahwa awal epidemi terjadi saat ia remaja akhir, membuatnya sangat takut terhadap penyakit dan diskursus di sekitarnya.