Sebuah studi tenaga kerja korporat yang dirilis oleh perusahaan fintech Ramp dan Revelio Labs pada akhir Juni 2026 mengungkapkan bahwa integrasi kecerdasan buatan (AI) yang intensif justru memperluas staf perusahaan sebesar 10 persen.

Temuan ini membantah klaim bahwa AI mendorong PHK teknologi secara luas.

>>> 14 Negara Tegaskan Kembali Putusan Arbitrase Laut China Selatan

Data muncul di tengah industri yang mencatat 81.700 pemutusan hubungan kerja global pada kuartal pertama 2026, meskipun raksasa pasar seperti Microsoft dan Meta secara kolektif memproyeksikan belanja infrastruktur AI sebesar $700 miliar tahun ini.

Alih-alih pengangguran massal, data dari Biro Sensus AS menunjukkan gelombang bisnis kecil yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan 1,56 juta pengajuan bisnis baru tercatat antara November 2025 dan Januari 2026.

Pemerintah AS dan Respons Publik

Departemen Tenaga Kerja AS menyoroti perubahan lingkungan kerja melalui pemberitahuan resmi.

“AI mengubah cara kita bekerja dan hidup,” bunyi pesan federal tersebut, yang bertujuan menormalisasi kekhawatiran publik seputar alur kerja otomatis.

Pemerintah merancang kursus instruksional selama seminggu untuk memberikan keterampilan AI dasar kepada peserta. Sistem ini juga memberikan rekomendasi untuk membantu pekerja menghasilkan aliran pendapatan alternatif, seperti ide sampingan.

Modul digital bahkan menyertakan latihan interaktif untuk mendemonstrasikan logika pembelajaran mesin.

“Ajak teman dan lihat gambar kuda nil siapa yang dikenali AI … dan yang disalahartikan sebagai kentang bergumpal,” demikian contohnya.

Peringatan dan Inisiatif Legislatif

CEO Anthropic Dario Amodei memberikan peringatan lebih luas mengenai sistem otomatis yang menggantikan staf manusia.

“AI bukanlah pengganti pekerjaan manusia tertentu, melainkan pengganti tenaga kerja umum bagi manusia,” ujarnya.