Pertumbuhan kredit perbankan nasional saat ini sangat bergantung pada sektor kredit investasi. Namun, tren kenaikan signifikan ini diperkirakan mulai melandai pada akhir tahun 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat total kredit perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan (yoy) hingga April 2026. Kredit investasi menjadi pendorong utama dengan lonjakan 19,48% yoy.

>>> DEB Keliki Bali: Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih

Sebagai perbandingan, kredit modal kerja hanya tumbuh 6,04% yoy dan kredit konsumsi 6,13% yoy. Ketimpangan ini menunjukkan konsentrasi aktivitas ekonomi pada proyek jangka panjang.

Peran Program Pemerintah

Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyebut program strategis pemerintah sebagai mesin utama pertumbuhan. Kehadiran lembaga pembiayaan baru seperti Danantara dan Koperasi Merah Putih memberikan dampak signifikan pada pendanaan.

Proyek energi terbarukan, khususnya pembangunan PLTS dengan target kapasitas 100 GW, juga menjadi katalis. Proyek ini memerlukan skema pembiayaan jangka panjang yang mendorong permintaan kredit investasi.

Namun, Rahma mencatat kontribusi sektor swasta masih terbatas. Hal ini terlihat dari tingkat undisbursed loan yang mencapai 22,57% hingga April 2026.

Ia menegaskan jika kredit investasi tumbuh 20% tetapi investasi swasta non-pelat merah stagnan, terjadi anomali. Dikhawatirkan data perbankan hanya gemuk di atas kertas tanpa dampak riil di lapangan.

Rahma menduga sebagian dana digunakan untuk restrukturisasi internal atau proyek penugasan Danantara. Akibatnya, efek ekonomi terhadap daya beli masyarakat tidak terasa.

Proyeksi Pelandaian

Rahma memprediksi pertumbuhan kredit investasi akan kembali ke level normal di akhir 2026. Kenaikan diperkirakan berada di rentang 12% hingga 14% seiring stabilnya proyek besar.

Dua faktor utama yang menentukan arah tren adalah pola pemanfaatan undisbursed loan dan fokus perusahaan pada efisiensi operasional.