Kehadiran fasilitas pemurnian konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.

Smelter dengan kapasitas pengolahan tiga juta ton per tahun ini menjadi rekor baru dalam industri hilirisasi di Indonesia.

>>> Tito: Kemendagri dan Pemda Dukung Optimalisasi Program BSPS

Kapasitas tersebut memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri lanjutan seperti pabrik kabel, otomotif, dan komponen energi baru terbarukan.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menyatakan bahwa hilirisasi merupakan langkah fundamental untuk menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.

"Hilirisasi tembaga menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri Indonesia. Dengan beroperasinya smelter Gresik, kita tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk olahan," ujarnya.

Dampak peningkatan kapasitas industri ini terlihat pada penerimaan negara. Kementerian ESDM melaporkan sektor minerba mencetak PNBP sebesar Rp56 triliun hingga pertengahan Mei 2026.

Capaian tersebut tumbuh 6,21 persen secara tahunan, ditopang oleh operasional fasilitas pemurnian yang terintegrasi dalam ekosistem hilirisasi nasional.

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa smelter Freeport di JIIPE Gresik menjadi tonggak penting untuk memperkuat kapasitas pemurnian dalam negeri.

Perusahaan terus mempercepat transisi dan perbaikan pasca-gangguan suplai dari hulu untuk memastikan kelancaran rantai pasok.

Selama masa transisi, pemeliharaan rutin dan persiapan teknis difokuskan sebelum fasilitas beroperasi penuh. Tony Wenas mengonfirmasi jadwal produksi: "Kira-kira bulan September akan produksi.

>>> Komjen Rudi Setiawan Resmi Dilantik sebagai Irjen Kemenimipas

Agustus sudah mulai olah konsentrat lagi."

Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal

Megaproyek ini memberikan multiplier effect bagi masyarakat sekitar. Kawasan JIIPE kini menjadi ekosistem mandiri yang menghidupkan UMKM lokal.