Bahasa Prancis di Sekolah: Gus Nadir dan Komisi X Kritik Kebijakan Prabowo
Beberapa langkah yang diusulkan:
- Menjadikan bahasa Prancis sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa yang berminat.
- Menerapkan instruksi ini sebagai program khusus di sekolah tertentu yang sudah memiliki fasilitas pendukung.
- Melakukan uji coba terbatas sebelum diwajibkan secara masif.
Langkah bertahap ini dianggap lebih bijaksana untuk menghindari kegagalan sistemik. Kualitas pendidikan tetap terjaga tanpa memaksakan standar yang belum mampu dipenuhi seluruh sekolah.
Kritik Atas Agenda Diplomasi vs Kebutuhan Murid
Terdapat kekhawatiran bahwa instruksi ini mungkin hanya dipandang sebagai gestur diplomasi internasional.
Lalu Hadrian berharap kebijakan ini didasari perencanaan pendidikan yang kuat, bukan sekadar respons terhadap suasana pertemuan antar kepala negara.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, akademisi dari University of Melbourne.
Melalui media sosial, ia memperingatkan agar kebijakan bahasa tidak lahir hanya karena hangatnya suasana diplomatik.
Gus Nadir menyoroti bahwa pemilihan bahasa asing mencerminkan pilihan geopolitik dan arah strategis bangsa.
>>> Klasemen MotoGP 2026: Bezzecchi Kokoh di Puncak, Marquez Tertahan
Kurikulum bahasa yang dipilih hari ini akan menentukan arah perdagangan, hubungan internasional, hingga peluang kerja generasi mendatang.
Pertimbangan Geopolitik dan Kebutuhan Praktis
Menurut Gus Nadir, pemerintah perlu membandingkan nilai strategis bahasa Prancis dengan bahasa internasional lain seperti Mandarin, Jepang, atau Spanyol.
Pemilihan bahasa asing idealnya didasarkan pada kajian mendalam mengenai kebutuhan pasar kerja global.
Selain aspek geopolitik, Gus Nadir mengingatkan masalah praktis di lapangan. Distribusi tenaga pendidik masih timpang di berbagai wilayah tanah air.
Beberapa kendala praktis yang disoroti:
- Kekurangan guru spesialis Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris di pelosok daerah.
- Ketersediaan lulusan pendidikan bahasa Prancis yang siap ditugaskan ke wilayah terpencil.
- Kebutuhan anggaran besar untuk pengadaan buku teks dan pelatihan guru secara nasional.
- Risiko melebarnya kesenjangan pendidikan antara siswa di kota besar dan daerah tertinggal.
Update Terbaru
Apakah Film Korea Hope (2026) Bakal Lanjut Season 2?
Jumat / 17-07-2026, 14:37 WIB
Amazon Ganti Pemeran Kratos di God of War Usai Ryan Hurst Cedera
Jumat / 17-07-2026, 14:36 WIB
Trump Desak Undang-Undang Pemilu Ketat dalam Pidato Kenegaraan
Jumat / 17-07-2026, 14:35 WIB
Portland Timbers Hajar Seattle Sounders 5-1, Catatkan Tiga Rekor Baru
Jumat / 17-07-2026, 14:35 WIB
DPR AS Tarik RUU Veteran Kontroversial Setelah Debat Sengit
Jumat / 17-07-2026, 14:35 WIB
Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia: Low Tuck Kwong Geser Robert Budi Hartono
Jumat / 17-07-2026, 14:35 WIB
Sekilas Menggemaskan tapi Ternyata Ini 3 Tanda Kucing Kamu Stres
Jumat / 17-07-2026, 14:35 WIB
Lamine Yamal dan Pedro Porro Jalani Latihan Terpisah Jelang Final Piala Dunia 2026
Jumat / 17-07-2026, 14:33 WIB
Veda Ega Pratama dan Mario Aji Jarang Naik Motor di Indonesia, Tapi Punya SIM
Jumat / 17-07-2026, 14:33 WIB
Bukan Sekadar Komisi, Mitra Grab Ungkap Faktor Penentu Order
Jumat / 17-07-2026, 14:32 WIB
Bupati Kuansing Bantah Beri Amplop ke Menteri Kehutanan Raja Juli
Jumat / 17-07-2026, 14:28 WIB
Fitch Pangkas Rating Pos Indonesia ke Level C Usai Gagal Bayar Imbalan Sukuk
Jumat / 17-07-2026, 14:28 WIB
Dokter Tifa Siap Bongkar Keaslian Ijazah Jokowi di Sidang
Jumat / 17-07-2026, 14:27 WIB
Siapa Anak dan Istri Slavko Vincic? Sosok Wasit Final Piala Dunia 2026 Argentina vs Spanyol, Bukan Orang Sembarangan?
Jumat / 17-07-2026, 14:25 WIB







