Skema pembagian pendapatan 92 persen untuk pengemudi dan 8 persen untuk aplikator telah berlaku sejak awal Juli 2026.

Namun, para mitra Grab menilai besaran komisi bukan satu-satunya faktor yang menentukan jumlah order.

>>> Bupati Kuansing Bantah Beri Amplop ke Menteri Kehutanan Raja Juli

Menurut sejumlah pengemudi, jam aktif, wilayah operasi, jenis layanan, serta perubahan permintaan ikut memengaruhi pendapatan harian.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa skema baru tidak bisa dinilai dari satu indikator saja.

Faktor Musiman dan Strategi Operasi

Rudi Paiman, mitra Grab asal Jakarta, menilai fleksibilitas waktu kerja dan kondisi libur sekolah sebagai faktor penting.

Ia mengatakan pendapatan tetap stabil asalkan pengemudi pandai mengatur aktivitas di lapangan.

"Menurut saya semuanya fleksibel yang kita jalankan. Alhasil pendapatan pun akan bertambah, bahkan tetap menjadi standar seperti awal," ujar Rudi.

Sementara itu, Mei Akbar Maniflor yang beroperasi di Jakarta membedakan dampak skema komisi dari penurunan permintaan saat libur sekolah.

>>> Fitch Pangkas Rating Pos Indonesia ke Level C Usai Gagal Bayar Imbalan Sukuk

Menurutnya, perubahan pendapatan perlu dilihat bersama kondisi order yang dihadapi pengemudi.

"Menurut saya stabil, karena ada beberapa faktor. Di lapangan saat ini anak sekolah lagi libur, jadi pendapatan beberapa teman driver juga turun," jelas Mei.

Pandangan lain disampaikan Dedy Tarmizi dari Jakarta. Ia memilih mencari order di kawasan dengan mobilitas dan antrean perjalanan tinggi, seperti kawasan Sudirman.

"Kalau saya ada peningkatan. Coba ke Sudirman, ada antrean, ada travel, pasti peningkatannya lebih tinggi dari sebelumnya," kata Dedy.

Pengalaman para mitra tersebut memperlihatkan bahwa dampak skema baru tidak dapat disimpulkan dari satu hari atau satu indikator.

>>> Dokter Tifa Siap Bongkar Keaslian Ijazah Jokowi di Sidang

Perbandingan perlu memasukkan jumlah perjalanan, waktu aktif, wilayah, jenis layanan, dan kondisi permintaan pada periode yang sama.