"Tidak peduli apa pun yang terjadi, Iran akan mengendalikan Selat Hormuz dalam waktu dekat," ujarnya.

Volume pengiriman minyak melalui tanker sebelum perang diperkirakan telah menjadi titik puncak yang sulit dicapai lagi.

Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, menilai bahwa setiap penyelesaian konflik yang masih memberikan peran operasional besar bagi Iran akan menghambat arus perdagangan.

Estimasi menunjukkan bahwa jika Iran memegang kendali penuh, lalu lintas kapal hanya akan pulih sekitar 60% hingga 70% dari level sebelum konflik.

Richard Meade, Pemimpin Redaksi Lloyd's List, menyampaikan proyeksi ini dalam sebuah pengarahan.

Meskipun tidak sampai memicu resesi ekonomi global yang ekstrem, Meade menegaskan bahwa pemulihan total tetap mustahil terjadi.

Ia melihat adanya pergeseran fungsi jalur laut dari akses bebas menjadi alat kepentingan politik.

Belajar dari Krisis di Laut Merah

Pengalaman pahit dari krisis geopolitik di Laut Merah menjadi peringatan nyata bahwa stabilitas jalur perdagangan bisa terganggu dalam waktu lama.

Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal komersial telah mengubah peta logistik laut secara permanen.

Data menunjukkan penurunan aktivitas kapal hingga lebih dari 50% hanya dalam hitungan bulan sejak konflik dimulai. Hingga dua tahun berselang, arus kapal masih jauh di bawah kapasitas normal.

>>> Bocoran Terbaru iPhone Fold: Desain HP Lipat Apple 2026 Makin Nyata

Analis risiko maritim dari Lloyd's List, Tomer Raanan, menegaskan bahwa ancaman rudal dan drone sudah cukup untuk melumpuhkan jalur internasional.

Meskipun intensitas serangan mulai mereda, kepercayaan para pemilik kapal tidak bisa kembali dengan instan.

Jack Kennedy dari S&P Global Market Intelligence mencatat bahwa jaminan keamanan saat ini belum cukup kuat untuk memulihkan volume lalu lintas ke level tahun 2023.