Pasar minyak dunia harus bersiap menghadapi kenyataan pahit setelah berakhirnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun perdamaian nantinya tercapai, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diprediksi tidak akan pernah kembali ke level normal.

>>> Produksi Gas Iran di South Pulih Normal Usai Serangan, Simak Kabar Terbaru

Kondisi ini disebabkan oleh kekhawatiran mendalam para pemilik kapal terhadap risiko keamanan di kawasan Teluk Persia. Mereka kini jauh lebih waspada dalam mempertimbangkan keselamatan aset dan awak kapal.

Kapal-kapal komersial milik negara Barat cenderung enggan melewati Selat Hormuz jika Iran masih memegang kendali penuh. Ketidakpastian hukum juga menjadi alasan utama di balik keraguan tersebut.

Para pelaku usaha khawatir jika harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, mereka justru akan terjerat sanksi AS.

Situasi ini menciptakan dilema besar bagi kelancaran arus energi global.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Sebelumnya, kebebasan navigasi di Selat Hormuz hampir tidak pernah mendapatkan tantangan serius.

Kondisi berubah drastis saat Iran menutup jalur laut tersebut sebagai reaksi atas konflik dengan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.

Penutupan ini memicu gangguan pasokan minyak paling signifikan dalam sejarah ekonomi modern. Tekanan akibat blokade ini memaksa AS untuk segera mencari kesepakatan guna menyelamatkan ekonomi dunia.

Teheran memanfaatkan posisi tawar ini untuk memperkuat pengaruh mereka atas selat tersebut dalam setiap negosiasi.

Banyak pemimpin di Timur Tengah kini meyakini bahwa kendali operasional atas Selat Hormuz telah berpindah ke tangan Iran.

Amos Hochstein, mantan penasihat senior bidang energi untuk eks Presiden AS Joe Biden, menyatakan bahwa dominasi Iran di selat tersebut akan tetap bertahan.