Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas dan Airbus Asia-Pacific menandatangani Joint Declaration of Intent (JDI) di Jakarta pada 5 Mei 2026.

Kesepakatan ini bertujuan menjajaki peluang kolaborasi di sektor kedirgantaraan nasional.

>>> Dua Lipa dan Callum Turner Resmi Menikah, Intip Potretnya yang Mengejutkan di 2026

Fokus utama kerja sama ini adalah penguatan kapasitas industri dalam negeri, terutama di bidang Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

JDI ini diharapkan menjadi katalisator bagi Peta Jalan Pengembangan Ekosistem Industri Kedirgantaraan Indonesia 2022-2045.

Sejarah Panjang Kemitraan

Perusahaan pendahulu Airbus seperti CASA, Aerospatiale, dan Messerschmitt-Bölkow-Blohm telah menjadi mitra Indonesia sejak era 1970-an. Mereka membantu B.

J. Habibie membangun manufaktur pesawat nasional saat banyak perusahaan Barat enggan memberikan bantuan teknologi.

Beberapa produk yang dulu diproduksi di bawah lisensi IPTN kini masih menjadi tumpuan pendapatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Namun, setelah transformasi dari IPTN menjadi PTDI, perusahaan dinilai kurang berhasil melahirkan produk baru yang kompetitif di pasar global.

Struktur Airbus sendiri telah berubah melalui konsolidasi industri di Eropa antara 1989 hingga awal 2000-an.

CASA, Aerospatiale, dan Messerschmitt-Bölkow-Blohm melebur menjadi EADS, yang kemudian berganti nama menjadi Airbus Group SE pada 2015 dan merger dengan Airbus S.

A. S pada 2017 menjadi Airbus SE.

Pola kerja sama pun bergeser.

Kini hubungan PTDI dan Airbus SE lebih fokus pada pengerjaan aerostruktur dan pemasaran produk seperti pesawat angkut militer C295 serta helikopter H225M dan H145.

Airbus Defence and Space juga telah memindahkan fasilitas produksi global untuk C212 ke pabrik PTDI di Bandung.

Tantangan Implementasi

Sebelumnya, pada 7 September 2022, Airbus Asia-Pacific dan PTDI menandatangani MoU pengembangan bisnis aerostruktur dan MRO dengan proyeksi nilai US$500 juta dalam satu dekade.