>>> Sinopsis Menjelang Magrib 2: Horor Medis dan Ritual Keji di ANTV Malam Ini

Namun, tindak lanjut kesepakatan tersebut belum terlihat nyata akibat keterbatasan anggaran PTDI untuk meremajakan mesin produksi.

Tanpa investasi pada mesin CNC modern, Airbus sulit menambah volume pesanan aerostruktur ke Indonesia. Akibatnya, peluang bisnis senilai ratusan juta dolar terancam hilang.

Sementara itu, beberapa perusahaan swasta lokal tetap aktif memproduksi komponen untuk pesawat komersial Airbus melalui rantai pasok global.

Ada empat poin krusial dalam implementasi JDI yang baru ditandatangani:

  • Sifat kesepakatan lebih politis, pelaksanaannya tidak bisa langsung dilakukan oleh Bappenas.
  • Realisasi bisnis harus mendapat persetujuan kantor pusat Airbus di Eropa, bukan hanya kantor regional di Singapura.
  • Indonesia belum menjadi prioritas utama investasi Airbus dibandingkan China dan India.
  • Perusahaan dirgantara nasional membutuhkan suntikan dana besar atau dukungan Danantara untuk meningkatkan standar produksi.

Airbus menerapkan standar kepatuhan yang sangat ketat menyusul kasus hukum yang pernah menimpa perusahaan. Ketika Indonesia sepakat mendatangkan dua unit A400M, penerapan aturan kepatuhan sempat menimbulkan dinamika internal.

Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan lemahnya daya saing industri kedirgantaraan internasional.

Fokus investasi Airbus lebih banyak ke China yang sudah memiliki fasilitas perakitan akhir (FAL) untuk A320, serta India untuk C295 dan H125.

Belum ada tanda-tanda Airbus menjadikan Indonesia sebagai pusat FAL kawasan.

Implementasi kerja sama akan didasarkan pada perhitungan bisnis profesional, bukan hubungan politik. Masalah permodalan menjadi batu sandungan utama.

Meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas SDM mustahil tanpa dukungan dana kuat. Peran Danantara menjadi vital bagi BUMN terkait.

Good governance juga menjadi prasyarat mutlak. Para pembuat kebijakan dan pelaku industri harus mengelola ekspektasi secara bijak.

Mengubah JDI menjadi kontrak bisnis yang menguntungkan adalah pekerjaan rumah berat. Diperlukan pembenahan menyeluruh terhadap faktor internal yang stagnan sejak akhir 1990-an.

Keberhasilan transformasi kini berada di tangan PT GMF AeroAsia dan PT Dirgantara Indonesia.

>>> The Virgin Rilis Lagu Baru Gila Dangdut, Padukan Distorsi Rock dan Koplo

Mereka dituntut menyesuaikan diri dengan standar global agar kemitraan dengan Airbus membuahkan hasil nyata bagi ekonomi nasional.