Indonesia dan Airbus Perkuat Kerja Sama, Ini Dampak Strategis 2026
>>> Sinopsis Menjelang Magrib 2: Horor Medis dan Ritual Keji di ANTV Malam Ini
Namun, tindak lanjut kesepakatan tersebut belum terlihat nyata akibat keterbatasan anggaran PTDI untuk meremajakan mesin produksi.
Tanpa investasi pada mesin CNC modern, Airbus sulit menambah volume pesanan aerostruktur ke Indonesia. Akibatnya, peluang bisnis senilai ratusan juta dolar terancam hilang.
Sementara itu, beberapa perusahaan swasta lokal tetap aktif memproduksi komponen untuk pesawat komersial Airbus melalui rantai pasok global.
Ada empat poin krusial dalam implementasi JDI yang baru ditandatangani:
- Sifat kesepakatan lebih politis, pelaksanaannya tidak bisa langsung dilakukan oleh Bappenas.
- Realisasi bisnis harus mendapat persetujuan kantor pusat Airbus di Eropa, bukan hanya kantor regional di Singapura.
- Indonesia belum menjadi prioritas utama investasi Airbus dibandingkan China dan India.
- Perusahaan dirgantara nasional membutuhkan suntikan dana besar atau dukungan Danantara untuk meningkatkan standar produksi.
Airbus menerapkan standar kepatuhan yang sangat ketat menyusul kasus hukum yang pernah menimpa perusahaan. Ketika Indonesia sepakat mendatangkan dua unit A400M, penerapan aturan kepatuhan sempat menimbulkan dinamika internal.
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan lemahnya daya saing industri kedirgantaraan internasional.
Fokus investasi Airbus lebih banyak ke China yang sudah memiliki fasilitas perakitan akhir (FAL) untuk A320, serta India untuk C295 dan H125.
Belum ada tanda-tanda Airbus menjadikan Indonesia sebagai pusat FAL kawasan.
Implementasi kerja sama akan didasarkan pada perhitungan bisnis profesional, bukan hubungan politik. Masalah permodalan menjadi batu sandungan utama.
Meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas SDM mustahil tanpa dukungan dana kuat. Peran Danantara menjadi vital bagi BUMN terkait.
Good governance juga menjadi prasyarat mutlak. Para pembuat kebijakan dan pelaku industri harus mengelola ekspektasi secara bijak.
Mengubah JDI menjadi kontrak bisnis yang menguntungkan adalah pekerjaan rumah berat. Diperlukan pembenahan menyeluruh terhadap faktor internal yang stagnan sejak akhir 1990-an.
Keberhasilan transformasi kini berada di tangan PT GMF AeroAsia dan PT Dirgantara Indonesia.
>>> The Virgin Rilis Lagu Baru Gila Dangdut, Padukan Distorsi Rock dan Koplo
Mereka dituntut menyesuaikan diri dengan standar global agar kemitraan dengan Airbus membuahkan hasil nyata bagi ekonomi nasional.
Update Terbaru
Vivo X Fold 6 Siap Meluncur dengan Baterai 7.000mAh dan Kamera 200MP
Selasa / 02-06-2026, 01:17 WIB
Samsung Siapkan Kejutan Rilis Tiga Galaxy Watch Baru Bersamaan
Selasa / 02-06-2026, 01:17 WIB
K-pop, K-film, dan K-food: Mengapa Bukan K-games?
Selasa / 02-06-2026, 01:17 WIB
Kembalinya I.O.I dan Wanna One: Lebih dari Sekadar Nostalgia bagi Penggemar K-pop
Selasa / 02-06-2026, 01:17 WIB
Astra Resmikan Rumah Layak Huni dan EcoBiz Kopi di Garut
Selasa / 02-06-2026, 01:16 WIB
BPNT 2026 Tahap 2 Cair: Jadwal, Syarat, dan Cara Cek Penerima Rp600 Ribu
Selasa / 02-06-2026, 01:16 WIB
Cara Cek Hasil TKA SD-SMP 2026: Tutorial Unduh Sertifikat Resmi dan Nilai Terbaru
Selasa / 02-06-2026, 01:16 WIB
Rise In dan Stellar Gelar Hackathon Web3 Asia Tenggara 2026, Hadiah Rp1 Miliar
Selasa / 02-06-2026, 01:16 WIB
Rupiah Melemah, Daihatsu Pilih Tahan Harga Jual Mobil Terbaru 2026
Selasa / 02-06-2026, 01:16 WIB
Nial Horan Senang Sempat Habiskan Waktu dengan Liam Payne
Selasa / 02-06-2026, 01:15 WIB
Kemenkes Buka Beasiswa SEHAT 2026, Cek Syarat Dapat Bantuan Rp10 Juta per Semester
Selasa / 02-06-2026, 01:15 WIB
Resmi! Pemprov Jateng Buka 139 Sekolah Swasta Gratis SPMB 2026, Cek Lokasinya
Selasa / 02-06-2026, 01:15 WIB
12 Tanaman Pakan Ayam Kampung Alami Agar Cepat Besar dan Produktif 2026
Selasa / 02-06-2026, 01:12 WIB
Isi Email Meta saat PHK 8.000 Karyawan di Pagi Buta 2026
Selasa / 02-06-2026, 01:11 WIB






