Pengusaha Perikanan Minta Bebas dari Wajib DHE SDA 2026
Asosiasi Produsen Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) secara resmi menyurati Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Mereka meminta sektor perikanan dikecualikan dari kewajiban Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang diatur dalam PP Nomor 8/2025.
>>> Danantara Belum Rilis Laporan Keuangan, Dony Oskaria Beri Penjelasan
Ketua AP5I, Saut P Hutagalung, mengungkapkan bahwa mayoritas anggotanya adalah eksportir udang ke Amerika Serikat. Saat ini mereka menghadapi keterlambatan pembayaran dari pembeli di AS.
Permasalahan ini dipicu oleh temuan kontaminasi zat radioaktif Cesium 137 pada produk tahun 2025.
Akibatnya, pengawasan diperketat dan pembayaran baru diterima dalam waktu 3 hingga 4 bulan setelah barang dikirim.
Beban Biaya yang Memberatkan
Eksportir perikanan juga menanggung berbagai beban biaya tambahan.
Antara lain tarif Anti Dumping 3,9 persen untuk masuk ke pasar AS, tarif global tambahan 10 persen, lonjakan harga bahan bakar industri lebih dari 70 persen, serta kenaikan biaya pengiriman ke AS sebesar 34-55 persen per kontainer.
Kondisi ini memaksa perusahaan menyediakan modal kerja dua kali lipat dari biasanya.
>>> BBM Naik, Alat Berat Listrik Jadi Solusi Efisiensi Tambang Terbaru 2026
Hal ini penting agar operasional tetap berjalan dan pembelian bahan baku dari nelayan atau petambak tidak terhenti.
AP5I menilai kewajiban retensi devisa dalam PP 8/2025 akan mengganggu arus kas perusahaan pengolahan ikan.
Mereka khawatir dampaknya meliputi gangguan operasional, penurunan daya saing, penurunan volume ekspor, hingga risiko PHK.
Dalam suratnya, AP5I menekankan bahwa seluruh devisa hasil ekspor sangat dibutuhkan untuk memutar roda bisnis.
Mereka berharap pemerintah memberikan pengecualian khusus demi menjaga keberlangsungan sektor perikanan dan mencegah penghentian operasi usaha.
>>> Mengenal Dolar: Sejarah, Pengertian, dan Alasan Paling Banyak Dicari 2026
Asosiasi juga meminta pemerintah meninjau ulang regulasi tersebut. Mereka menegaskan pentingnya fleksibilitas bagi sektor yang sangat bergantung pada fluktuasi harga global.
Update Terbaru
Cara Memahami 2 Sistem Pendengaran Unik pada Anjing Laut Berdasarkan Riset 2026
Jumat / 17-07-2026, 04:14 WIB
Dokter Tifa Yakin Eksepsi Diterima, Allah Bersamanya Lawan Jokowi
Jumat / 17-07-2026, 04:01 WIB
Roy Suryo Dilaporkan ke Polisi Akibat Pernyataan Soal Ijazahnya
Jumat / 17-07-2026, 04:01 WIB
Trump Akui Ada Negara Asing Coba Gagalkan Negosiasi AS-Iran
Jumat / 17-07-2026, 04:00 WIB
Anak dan Istri Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Dikucilkan, Diungsikan
Jumat / 17-07-2026, 04:00 WIB
Casio Rilis Jam Tangan Retro Baru dengan Dial Bersih dan Baja Tahan Karat di AS
Jumat / 17-07-2026, 04:00 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 18 – 19 Juli 2026
Jumat / 17-07-2026, 04:00 WIB
Jadwal Bioskop Trans TV 18 – 19 Juli 2026
Jumat / 17-07-2026, 04:00 WIB
Belanda Dukung Pemecatan Jaksa ICC Karim Khan yang Diskors
Jumat / 17-07-2026, 03:49 WIB
Asap Kebakaran Hutan Ancam Kualitas Udara Wisconsin, Capai Level Berbahaya
Jumat / 17-07-2026, 03:49 WIB
Publix Tutup Empat Supermarket di 2026, Alihkan Modal ke Pasar Lebih Produktif
Jumat / 17-07-2026, 03:49 WIB
Brianna LaPaglia Sebut Bunnie Xo Masih di Bawah Kendali Jelly Roll
Jumat / 17-07-2026, 03:49 WIB
Polisi Tangkap Pria Usai Insiden Keamanan Libatkan Craig Melvin
Jumat / 17-07-2026, 03:47 WIB
Pengemudi Mobil dalam Penembakan Fatal Detektif Jonathan Diller Dihukum 5 Tahun Penjara
Jumat / 17-07-2026, 03:47 WIB







