Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, secara terbuka memberikan penjelasan terkait belum dirilisnya laporan keuangan lembaga tersebut.

Sejak resmi didirikan pada Februari tahun lalu, Danantara memang belum memublikasikan performa finansialnya ke publik.

>>> BBM Naik, Alat Berat Listrik Jadi Solusi Efisiensi Tambang Terbaru 2026

Karakteristik Unik Laporan Keuangan Danantara

Dony mengungkapkan bahwa laporan keuangan Danantara memiliki karakteristik yang unik dan sangat berbeda dengan perusahaan pada umumnya.

Hal ini dikarenakan laporan tersebut merupakan hasil penggabungan atau konsolidasi dari seluruh laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Saat ini, Danantara sedang fokus melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem tata kelola di lingkungan perusahaan pelat merah.

Fokus utama mereka adalah meningkatkan transparansi agar setiap data yang disajikan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Proses pembenahan ini mencakup pembersihan pembukuan pada berbagai perusahaan BUMN yang berada di bawah naungan Danantara.

Selain itu, pihak manajemen juga tengah menyelesaikan masalah penurunan nilai aset atau impairment yang selama ini masih mengganjal.

>>> Mengenal Dolar: Sejarah, Pengertian, dan Alasan Paling Banyak Dicari 2026

Rencana Penyelesaian Laporan Keuangan Konsolidasi

  • Melakukan proses pembersihan laporan keuangan pada seluruh entitas BUMN agar selaras dengan standar baru.
  • Menyelesaikan evaluasi terhadap beberapa BUMN yang proses pembukuannya masih dalam tahap penyelesaian.
  • Menargetkan seluruh proses pembersihan laporan keuangan selesai secara total pada akhir Juni ini.
  • Memfinalisasi laporan keuangan konsolidasi sebelum nantinya dipublikasikan secara resmi kepada masyarakat.

Dony menekankan bahwa langkah pembersihan ini sangat krusial sebelum laporan keuangan konsolidasi benar-benar difinalisasi.

Penataan ulang ini diharapkan bisa menjadi pondasi kuat bagi transparansi finansial Danantara di masa depan.

Persoalan tata kelola yang lama menjadi salah satu alasan mengapa proses ini memakan waktu yang cukup signifikan.

Masalah tersebut terlihat jelas dari besarnya nilai penurunan nilai aset (impairment) yang harus ditanggung oleh buku BUMN.

Angka impairment aset tersebut tidaklah kecil karena mencapai kisaran Rp100 triliun dalam pembukuan perusahaan-perusahaan negara.

>>> Cara Upgrade Kartu BRI Debit Contactless Mastercard, Dapat Cashback Rp50.000

"Kami melakukan impairment hampir 100 triliun terhadap buku-buku BUMN," tegas Dony dalam konferensi pers pada Minggu (31/5/2026).