Gema puisi Jerman memenuhi Auditorium Ki Nartosabdo di Jaya Suprana Institute, Jakarta Utara, pada Minggu sore (31/5).

Berthold Damshäuser membacakan mahakarya Rainer Maria Rilke berjudul Der Panther di hadapan para pecinta sastra.

>>> Bapenda DKI Jakarta Hapus Denda Pajak Kendaraan Mulai 1 Juni 2026

Berthold Damshäuser, yang akrab dipanggil Pak Trum, menerjemahkan judul tersebut menjadi "Macan Kumbang". Pembacaan bait-bait puisi itu terasa magis, menggambarkan tatapan lelah seekor hewan di balik jeruji besi.

Berikut penggalan bait puisi "Macan Kumbang":

  • Tatapannya lelah melintasi jeruji demi jeruji hingga pandangannya tiada lagi.
  • Seakan jeruji berjumlah selaksa dan di seberangnya dunia tak ada.
  • Langkahnya yang anggun dan perkasa berputar-putar di sempit lingkarannya bagai tarian kekuatan.
  • Cuma kadang tirai anak mata menyingkap bisu menyusup lah citra, rasuki senyap nan tenang di raga lalu sirna dalam jiwa.

Karya tentang macan kumbang yang terkurung ini menjadi pembuka gelaran sastra kolaborasi Satupena dan Jaya Suprana School of Performing Arts (JSI).

Bagi Trum, puisi ini memiliki sejarah personal yang mendalam karena merupakan perkenalan pertamanya dengan sosok Rilke sewaktu ia masih muda.

Ia menceritakan bahwa puisi Der Panther ditemukan pertama kali di dalam buku pelajaran sekolah saat ia masih remaja.

Sejak saat itu, puisi tersebut menjadi salah satu karya Rilke yang paling berkesan sekaligus paling ikonik di matanya.

Upaya Membawa Sastra Jerman ke Indonesia

Setelah puluhan tahun berlalu, Trum mewujudkan kecintaannya pada Rilke melalui kolaborasi bersama penyair kenamaan Indonesia, Agus R. Sarjono.

Mereka berdua berhasil menerjemahkan kumpulan puisi Rilke ke dalam bahasa Indonesia melalui buku dwibahasa berjudul "Kedalaman Terarah Padamu".