Pemerintah secara resmi memperkenalkan skema relaksasi dan insentif perpajakan bagi eksportir sektor sumber daya alam (SDA).

Kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) yang mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026.

>>> Purbaya Ungkap Dampak DSI ke Pasar Modal, Rekomendasi Saham Bank BUMN

Tujuan utama fasilitas ini adalah mendorong eksportir menempatkan dana hasil perdagangan di perbankan domestik. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar dan likuiditas valuta asing dalam negeri lebih terjaga.

Fleksibilitas Penempatan Devisa

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, pemerintah memberikan kelonggaran khusus bagi eksportir yang bermitra dengan negara tertentu.

Fleksibilitas ini berlaku bagi perusahaan yang memiliki pembeli dari negara dengan perjanjian perdagangan bilateral dengan Indonesia.

Purbaya menekankan kebijakan ini tidak kaku dan menyesuaikan dinamika kerja sama internasional. Kelonggaran tersebut diharapkan mempermudah operasional perusahaan tanpa melanggar komitmen internasional.

Berdasarkan aturan terbaru, eksportir dengan kontrak bilateral boleh menyimpan sebagian devisa di luar bank pemerintah. Namun, ada batasan ketat terkait porsi dan durasi penyimpanan.

  • Lokasi penempatan dana: Bank Non-Himbara diperbolehkan bagi eksportir dengan perjanjian bilateral.
  • Batas maksimal penempatan: Maksimal 30 persen dari total nilai devisa hasil ekspor.
  • Durasi penempatan: Paling lama 3 bulan di bank non-pemerintah.
  • Kewajiban pelaporan: Setiap transaksi dan penempatan dana wajib dilaporkan secara berkala.
  • Fokus sektor: Batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy.

Aturan ini dirancang menyeimbangkan fleksibilitas bisnis dengan kepentingan nasional menjaga cadangan devisa. Pemerintah berharap eksportir tetap patuh meski ada batas maksimal.

Insentif Pajak Hingga Nol Persen

Selain fleksibilitas penempatan dana, pemerintah menyiapkan insentif pajak penghasilan (PPh). Eksportir yang taat aturan penempatan DHE SDA akan menikmati tarif pajak lebih ringan dibanding instrumen keuangan biasa.