Perusahaan energi terbarukan milik taipan Indonesia Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy, mengajukan penawaran senilai US$5 miliar atau sekitar Rp89,9 triliun untuk mengakuisisi Energy Development Corp.

(EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina.

>>> Trailer Beast of Reincarnation Perlihatkan Sistem Pertarungan, Rilis 4 Agustus

Penawaran tersebut bersifat tidak diminta (unsolicited), indikatif, dan tidak mengikat (non-binding). Transaksi masih bergantung pada proses uji tuntas serta persetujuan dari pihak terkait.

Pemegang saham utama EDC, First Gen Corp. , menyatakan hingga saat ini belum ada pembahasan resmi maupun kesepakatan yang diteken antara kedua belah pihak.

"Hingga saat ini belum ada diskusi antara kedua pihak dan belum ada perjanjian yang ditandatangani," tulis First Gen dalam pernyataannya dikutip dari Forbes, Rabu (15/7).

First Gen yang dikendalikan keluarga konglomerat Federico Lopez juga mengatakan belum menunjuk penasihat keuangan untuk memproses potensi transaksi tersebut.

Profil EDC dan Ekspansi Prajogo

EDC merupakan perusahaan panas bumi milik negara Filipina yang diakuisisi Grup Lopez pada 2007.

Perusahaan itu kini memiliki dan mengoperasikan 16 pembangkit listrik tenaga panas bumi di Filipina dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.302,78 MW.

Selain itu, EDC juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air, surya, dan angin dengan kapasitas hampir 300 MW.

Jika akuisisi terealisasi, aset tersebut akan memperkuat portofolio energi terbarukan Prajogo yang dalam beberapa tahun terakhir agresif berekspansi di sektor panas bumi.

Pada 2023, Prajogo mencatatkan saham perusahaan tambang batu bara Petrindo Jaya Kreasi dan Barito Renewables Energy di Bursa Efek Indonesia.

>>> Tommy Fleetwood Incar Kemenangan Bersejarah di Royal Birkdale

Barito Renewables merupakan induk usaha Star Energy Geothermal Group, produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas sekitar 886 MW yang tersebar di tiga proyek panas bumi di Jawa Barat.