Selama puluhan tahun, resesi sering dianggap sebagai konsekuensi logis dari euforia ekonomi.

Teori klasik boom and bust meyakini bahwa pertumbuhan terlalu cepat, kredit longgar, dan spekulasi pasti berujung koreksi.

>>> BMKG Prakirakan Cuaca Yogyakarta Berawan Hingga Udara Kabur Hari Ini 1 Juni 2026

Tyler Goodspeed dalam bukunya Recession (2026) meruntuhkan pandangan tersebut. Menurutnya, resesi bukanlah hukuman moral atas ekspansi, melainkan hasil benturan berbagai guncangan yang kompleks dan struktural.

Ekonomi tidak runtuh hanya karena tumbuh terlalu pesat. Keruntuhan terjadi ketika struktur yang rapuh tak mampu menyerap tekanan dari guncangan yang datang bersamaan.

Refleksi Krisis 1998 dan Relevansinya

Pemikiran Goodspeed sangat relevan dengan krisis Indonesia 1997-1998.

Riset disertasi saya pada 2007 tentang rekapitalisasi bank dan kinerja perbankan menunjukkan bahwa krisis bukan semata akibat spekulan mata uang.

Krisis dipicu interaksi rumit antara melemahnya nilai tukar, rapuhnya sistem perbankan, dan pelarian modal.

Faktor lain termasuk mismatch valuta asing, moral hazard, dan terputusnya aliran dana ke sektor riil.

Indonesia telah membuktikan bahwa kehancuran ekonomi berawal dari akumulasi kerentanan struktur yang saling memperkuat. Krisis bukan ledakan tunggal, melainkan keruntuhan fondasi yang tampak stabil di permukaan.

Memahami Apophenia dalam Mitos Ekonomi

Goodspeed menggunakan istilah medis "apophenia" untuk menggambarkan kecenderungan manusia melihat pola sebab-akibat pada peristiwa yang tak berkaitan. Banyak pihak terjebak keyakinan bahwa setiap boom pasti membawa benih kehancuran.

Sejarah membuktikan bahwa banyak ekspansi berakhir bukan karena kesalahan internal, melainkan tekanan eksternal yang menghantam titik lemah struktur domestik.

Melihat krisis secara moralistik adalah kekeliruan besar.

Ekonomi tidak tumbang karena keserakahan pelaku pasar, tetapi karena struktur sistem kehilangan daya tahan.