PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan hilirisasi sebagai strategi utama untuk menjaga keberlanjutan industri pertambangan di tengah meningkatnya kebutuhan mineral global seiring percepatan transisi energi.

Permintaan terhadap mineral, terutama tembaga, terus meningkat karena menjadi bahan baku penting dalam produksi kendaraan listrik, pembangunan jaringan kelistrikan, hingga pengembangan energi terbarukan.

>>> Rick Ross Sarankan LeBron James Gabung ke Miami Heat demi Bisnis

Di sisi lain, industri pertambangan juga dituntut mampu menekan emisi karbon, menjalankan praktik operasional yang bertanggung jawab, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menjawab tantangan tersebut, PTFI mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis melalui pengembangan tambang bawah tanah, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri, serta penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam kegiatan operasional.

Smelter Baru di Gresik Jadi Pilar Hilirisasi

Salah satu langkah strategis perusahaan diwujudkan melalui pengoperasian smelter baru di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, yang diresmikan pada Juni 2024.

Fasilitas itu disebut sebagai smelter single line terbesar di dunia dan menjadi bagian penting dalam penguatan program hilirisasi mineral nasional.

Smelter tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun yang dapat menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga.

Selain itu, fasilitas tersebut juga memproduksi logam ikutan bernilai tinggi seperti emas dan perak.

Keberadaan smelter di KEK Gresik juga diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem industri hilir berbasis tembaga, termasuk untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai hilirisasi akan memperkuat daya saing ekspor nasional.