Praktisi industri pertambangan menyoroti tantangan besar yang akan dihadapi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam mengelola kebijakan ekspor satu pintu.

Entitas di bawah BPI Danantara itu diprediksi harus menangani volume ekspor batu bara yang sangat masif setiap harinya.

>>> Qodari: Hubungan Prabowo dengan Pemimpin Dunia Jadi Modal Kuat RI 2026

Skala Operasional dan Kebutuhan Kapal

Hary Kristiono, pengurus Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), memberikan gambaran beban kerja operasional perusahaan tersebut.

Menurut perhitungannya, PT DSI setidaknya harus mengelola pengiriman sekitar 1,5 juta ton batu bara per hari.

Volume ekspor yang besar itu membutuhkan dukungan logistik armada laut yang tidak sedikit.

Hary meramal bahwa aktivitas tersebut memerlukan setidaknya 23 kapal tanker kategori Panamax yang beroperasi secara rutin setiap harinya.

Perkiraan itu didasarkan pada asumsi bahwa performa ekspor batu bara nasional di masa mendatang masih stabil.

Hary menggunakan data pencapaian ekspor Indonesia pada tahun sebelumnya yang menyentuh angka sekitar 536 juta ton sebagai basis perhitungan.

Berikut rincian estimasi beban kerja harian yang akan dikelola PT DSI:

  • Volume ekspor tahunan mencapai 536 juta metrik ton.
  • Rata-rata volume komoditas yang harus diurus mencapai 1,5 juta metrik ton per hari.
  • Kebutuhan armada pengangkut diperkirakan mencapai 23 unit kapal sekelas Panamax per hari.
  • Kompleksitas proses administrasi dokumen pengapalan yang sangat masif bagi satu entitas pengelola.
  • Tantangan dalam pengaturan sistem pembayaran yang melibatkan banyak pihak.

Hary Kristiono, yang juga menjabat sebagai CEO Ucoal, menyampaikan pandangannya pada Minggu, 31 Mei 2026.

Ia menekankan bahwa mengelola administrasi untuk puluhan kapal setiap hari bukanlah perkara mudah dan membutuhkan kesiapan sistem yang matang.