Shinta menjelaskan, SBT dalam SKDU pada dasarnya mencerminkan nafsu makan atau appetite dunia usaha terhadap ekspansi, termasuk dalam hal pembiayaan.

"Konteks ini juga berlaku dengan penilaian SBT kuartal I-2026 yang disampaikan BI. Perlu diingat, SBT merupakan indikator appetite atau confidence pelaku usaha untuk melakukan ekspansi kredit usaha," jelasnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang masih lemah, tekanan biaya yang tinggi, serta biaya pembiayaan yang relatif mahal, pelaku usaha menilai ekspansi saat ini belum tentu berkelanjutan secara bisnis.

Dalam situasi tersebut, Apindo menilai diperlukan intervensi kebijakan yang lebih konkret untuk mendorong dunia usaha kembali ekspansif.

Mulai dari stabilisasi makroekonomi, pengendalian inflasi, hingga perbaikan iklim usaha dinilai menjadi faktor kunci.

"Jadi intervensi yang kami perlukan saat ini dari pemerintah antara lain stabilisasi kondisi makro ekonomi nasional agar lebih mendukung ekspansi usaha," ujar Shinta.

Selain itu, simplifikasi regulasi serta penurunan berbagai beban usaha seperti energi, logistik, dan pembiayaan juga dinilai penting untuk meningkatkan daya tahan pelaku usaha.

Pemerintah juga diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan yang lebih terjangkau, khususnya bagi sektor padat karya yang berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Tak hanya itu, belanja pemerintah juga diharapkan lebih diarahkan pada sektor produktif, serta memperkuat konektivitas dan modernisasi industri.

>>> Tribute to Erros Djarot di Java Jazz 2026: Momen Nostalgia Paling Dinanti Penonton

Di tengah tekanan global, diversifikasi perdagangan juga dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan memperkuat ekspor.