Shinta mengatakan, pelaku usaha saat ini cenderung menjadikan kondisi pasar jangka menengah sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan bisnis, termasuk soal tenaga kerja.

Dalam setahun terakhir, kondisi pasar dinilai belum cukup kondusif, baik di dalam negeri maupun global.

"Perlu diperhatikan bahwa kinerja pasar setahun terakhir cukup membuat tekanan terhadap kinerja pasar secara umum, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri," sebut dia.

Di tengah kondisi tersebut, dunia usaha juga dihadapkan pada kenaikan berbagai komponen biaya, mulai dari energi, logistik, hingga pembiayaan.

Hal ini membuat perusahaan semakin berhati-hati dalam melakukan ekspansi, termasuk membuka lapangan kerja baru.

"Karena kondisi pasar setahun terakhir tidak cukup kondusif dan outlook pertumbuhan kinerja pasar di 2026 juga tidak terlalu optimistis, ditambah dengan pertimbangan inflasi beban-beban usaha lainnya, saat ini pelaku usaha umumnya cenderung menahan diri untuk melakukan ekspansi lapangan kerja," kata Shinta.

>>> Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah? Ini Hukum dan Keutamaannya

Menurutnya, strategi yang diambil pelaku usaha saat ini lebih mengarah pada efisiensi dan optimalisasi kapasitas yang sudah ada, dibandingkan ekspansi tenaga kerja baru.

"Kini pelaku usaha cenderung fokus pada efisiensi biaya usaha dan intensifikasi penggunaan resources usaha yang sudah ada," ujarnya.

Selain faktor permintaan dan biaya, struktur ketenagakerjaan di sektor formal juga menjadi pertimbangan.

Beban yang timbul, termasuk risiko biaya saat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat perusahaan semakin selektif dalam merekrut.

"Apalagi kalau menimbang bahwa di Indonesia beban tenaga kerja di sektor formal cukup tinggi," ucap dia.

Di sisi lain, indikator kepercayaan pelaku usaha untuk berekspansi juga menunjukkan kehati-hatian.