Hilirisasi Setengah Jalan

Dominasi produk antara dalam ekspor menunjukkan hilirisasi masih setengah jalan. Nilai ekonomi terbesar dalam rantai nilai kakao global ada pada produk jadi.

Biji kakao dihargai sekitar US$ 3.000 hingga US$ 4.000 per ton. Saat menjadi produk antara, nilainya meningkat, tetapi lonjakan sesungguhnya terjadi pada produk cokelat premium bermerek.

>>> Apakah SIM Indonesia Berlaku Internasional? Cek Aturan Resmi Terbaru 2026

Pada segmen premium, nilai per ton bisa mencapai US$ 10.000 hingga US$ 20.000.

Saat ini, keuntungan besar itu lebih banyak dinikmati negara yang menguasai tahap akhir produksi.

Kerugian akibat hilirisasi yang belum tuntas antara lain hilangnya potensi devisa miliaran dolar, kurangnya penguasaan branding, ketergantungan pada fluktuasi harga, dan terhambatnya lapangan kerja baru.

Ketimpangan Struktur Industri

Struktur industri kakao juga timpang antara pemain besar dan petani. Kapasitas pengolahan skala besar didominasi perusahaan multinasional dengan teknologi dan akses pasar luas.

Dominasi ini menyebabkan sebagian besar keuntungan mengalir ke luar negeri. Sementara itu, petani sebagai tulang punggung industri berada dalam posisi tawar lemah.

Petani menghadapi masalah klasik: keterbatasan lahan, akses pembiayaan sempit, dan minimnya insentif untuk meningkatkan kualitas biji. Tanpa perbaikan di hulu, transformasi hilir tidak memiliki fondasi domestik yang kuat.

Tantangan Regulasi Global

Munculnya European Union Deforestation Regulation (EUDR) menuntut transparansi rantai pasok kakao bebas deforestasi. Bagi Indonesia, ini ujian kesiapan sistemik pengelolaan berkelanjutan.

Tanpa kesiapan memenuhi standar legalitas lahan, akses ke pasar premium dunia terancam tertutup.

Namun, inisiatif lokal seperti Macoa dengan model bean-to-bar membuktikan bahwa pengolahan mandiri dapat memberikan nilai tambah luar biasa.