Sebatang Dubai Chocolate Macoa asal Polewali Mandar menjadi viral sebagai oleh-oleh jemaah umrah dan haji.

Produk ini bahkan mulai merambah pasar internasional dengan rasa premium dan sentuhan lokal yang kuat.

>>> Toyota Fortuner Generasi Terbaru Siap Debut 2026, Intip Spek yang Banyak Dicari!

Namun, di balik kesuksesan itu, terselip ironi besar.

Indonesia, salah satu penghasil kakao terbesar di dunia, masih sangat bergantung pada impor biji kakao untuk menjaga industri dalam negeri.

Produktivitas Kakao Nasional Rendah

Produksi kakao nasional saat ini hanya bertahan di angka 600 ribu hingga 700 ribu ton per tahun. Rata-rata produktivitas petani hanya sekitar 456 kilogram per hektare.

Padahal, secara agronomis, potensi lahan di Indonesia mampu menghasilkan satu hingga satu setengah ton kakao per hektare.

Dengan luas lahan mencapai 1,3 juta hektare, kesenjangan produktivitas ini cukup memprihatinkan.

Kesenjangan itu setara dengan hilangnya potensi produksi sebesar 700 ribu ton setiap tahun. Ini berarti hilangnya peluang devisa dan pendapatan bagi petani lokal.

Hilir Maju, Hulu Tertinggal

Di sisi hilir, Indonesia menunjukkan kemajuan.

Nilai ekspor produk kakao meningkat dari US$ 1,1 miliar pada 2021 menjadi hampir US$ 3,5 miliar pada 2025.

Struktur ekspor bergeser dari biji mentah ke produk antara seperti cocoa butter dan cocoa powder.

Namun, kemajuan ini menciptakan kontradiksi: industri pengolahan berkembang pesat, tetapi tidak didukung pasokan bahan baku lokal.

Akibatnya, impor biji kakao menjadi pilihan yang tidak terhindarkan. Ketergantungan pada impor melemahkan hubungan antara industri pengolahan dan petani domestik.

Sebagian nilai tambah yang seharusnya berputar di dalam negeri justru mengalir ke luar negeri.