Sebuah studi oleh tim World Weather Attribution mengungkapkan bahwa perubahan iklim memperparah curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir pesisir dahsyat di Afrika Barat mulai 20 Juni 2026.

Dilansir dari The Guardian, hujan deras mengguyur wilayah pesisir padat penduduk di Pantai Gading, Ghana, Togo, dan Nigeria dengan curah hujan mencapai 140 mm dalam waktu kurang dari sehari.

>>> Makanan Ultraproses Picu Sepertiga Kasus Penyakit Jantung

Banjir tersebut menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan lainnya mengungsi.

Para peneliti menemukan bahwa emisi gas rumah kaca membuat hujan tiga hari ini lima kali lebih mungkin terjadi dan meningkatkan intensitasnya sekitar 23% sejak pencatatan dimulai.

Dengan suhu global saat ini 1,4 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan era pra-industri, para ilmuwan memperkirakan hujan lebat serupa akan melanda kawasan Teluk Guinea setiap dua hingga empat tahun.

Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, menekankan perlunya adaptasi lokal segera di samping upaya mitigasi global.

"Iklim berubah lebih cepat daripada kemampuan sebagian besar negara untuk beradaptasi," kata Otto.

Ia memperingatkan bahwa tindakan segera diperlukan untuk mencegah cuaca ekstrem ini memburuk dalam waktu dekat.

"Beradaptasi dengan peristiwa yang kini umum ini sangat penting, tetapi mengurangi emisi secara lebih cepat dan lebih jauh juga sama pentingnya, agar kita punya waktu untuk mengimbangi perubahan yang sudah kita picu.

Sederhananya, sampai emisi berhenti, kejadian ekstrem ini hanya akan bertambah buruk," ujar Otto.

>>> China Kumpulkan Miliaran Dolar demi Kejar Ketertinggalan Chip AI dari AS

Untuk menilai dampak pemanasan global, para peneliti membandingkan data historis dengan model iklim, yang menunjukkan peningkatan intensitas curah hujan sebesar 4% akibat perubahan iklim.